Tampilkan postingan dengan label ODOP BLOGGER MUSLIMAH OKT 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ODOP BLOGGER MUSLIMAH OKT 2017. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Oktober 2017

Adil Itu Seperti Apa?

"Ummi gak adil!" Protes anak saya. Pernah tidak anak kita merasa kalau kita sebagai orang tuanya tidak adil? Saya pernah, sering malah. Saya sudah berusaha adil tapi anak-anak merasa saya membeda-bedakan.
"Mbakkan butuh kain banyak buat bikin pesanan, Mi, tapi Ummi cuma merhatiin Hani aja," protes si sulung.
"Hanikan juga perlu mixer ukuran besar, Mi, tapi malah ngeduluin beli mesin jahit baru buat Mbak," anak keduaku tak mau kalah. Pusing? Pusing sih tapi berusaha lempeng dan biasa saja walaupun dada bergemuruh😅
Kalau bicara soal adil, adil yang pernah saya dapat dari kuliah kurang lebih seperti ini :
Adil artinya bukan seimbang
Tidak juga berarti ukuran sama panjang
Definisi ini adalah tanggapan biasa yang lumrah kita terima
Bukan takrif yang dikehendaki oleh Islam
Arti adil meletakkan sesuatu itu sesuai dengan tempatnya atau kedudukannya
Yaitu utama mesti diutamakan
Yang tidak utama bisa di lain kesempatan
Yang penting didahulukan, yang tidak penting bisa belakangan
Yang wajib diutamakan
Mungkin sulit dipahami jika tidak diuraikan
Mari kita menguraikannya agar kita paham
Adil yang paling besar atau super adil
Allah Taala kita jadikan sebagai Tuhan
Kita sembah, kita besarkan, kita puja sepanjang masa
Kita cinta dan kita takut dan ingat serta sebut di mana-mana
Jangan jadikan selain Allah menjadi Tuhan, atau kita utamakan dan besarkan lebih darinya
Adil martabat tinggi syariat Tuhan diutamakan atau didahulukan
Atau hak Tuhan kita dahulukan
Peraturan manusia ditinggalkan
Hak Tuhan kita utamakan hak manusia kita kerjakan setelahnya
Adil martabat kedua mendahulukan hak ibu orang tua daripada kita
Guru-guru kita juga patut diutamakan dari kepentingan kita
Mendahulukan hak suami dari kita adalah utama dan mulia
Jika berkongsi berniaga saham sama banyaknya untung bagi dua
Kalau saham tidak sama untung diberi mengikut saham sedikit banyaknya
Jabatan yang hendak diberi kepada seseorang sesuai dengan kebolehannya
Gaji diberi sesuai dengan jabatan dan tanggung jawab
Inilah arti adil dan keadilan
Tapi kita sedih adil yang diperjuangkan oleh para pejuang adil martabat rendah
Super adil dan adil martabat tinggi tidak diindahkan
Bermati-matian keadilan peringkat rendah diperjuangkan hingga sanggup menumpahkan darah
Keadilan martabat tinggi dan super adil diabaikan dan tidak diindahkan
#ODOPOKT28

Senin, 30 Oktober 2017

Cerita Keponakan dan Pamannya

"Wah, hape baru nih?" Tanya suamiku sambil membolak-balik hape berlogo apel kegigit itu.
"Bisa gak?" Tanya keponakan suami pemilik hape baru itu.
"Ya bisalah, paling beda tipis aja sama hape biasa," sahut suamiku.
"Bukaaaan, maksudnya bisa gak belinya? Kebeli gak?" Tanyanya dengan wajah penuh kemenangan. Mendapati jawaban songong seperti itu hati perempuan mana sih yang gak terasa kesamber petir? Itu anak remaja lho! Anak kakak ipar yang kelahirannya begitu dinanti-nanti suamiku, suamiku yang pontang-panting kesana kemari karena bapak anak ini jauh di rantau. Suamiku yang saat dia demam sibuk menjaga dan merawatnya. Sekarang dengan berani ngomomg kurang ajar seperti itu?
Udah kesel begitu lalu saya bilang ke suami suruh negur beliau mah lempeng aja. Bilangnya anaknya memang begitu. Duh, tambah bikin gondok aja.
Sudahlah seperti itu setiap saya datang berkunjung ke rumahnya, dia gak menemui kami sama sekali, minimal bersalamanlah, tapi gak dilakukan sama sekali. Sampai anak-anak saya yang kecil-kecil tidak tahu anak-anak budenya sendiri, padahal suamiku hanya dua bersaudara.
Alhasil kalau kami berkunjung, kami hanya ditemui oleh pembantunya, ditemui sebentar oleh kakak ipar yang super sibuk karena beliau kepala sekolah dan pengurus ibu-ibu PKK.
Saya lalu mengingat-ingat apa mungkin ada kesalahan saya yang membuat keponakan suami saya ini bersikap seperti itu. Setelah saya ingat-ingat, muncul peristiwa saat kematian suami kakak ipar alias bapak dari anak songong itu.
Saat saya mengingatnya, saya coba komunikasi dengan ibu mertua. Saya tidak mau dugaan ini saya simpan sendiri. Ya, saat suami kakak ipar saya meninggal, suami sebenarnya sudah ijin cuti untuk pulang dari Jakarta ke Purworejo. Suami sudah siap berangkat sampai telpon masuk saat beliau mengenakan sepatu. Saat itu saya sendiri sedang masa nifas hingga belum bisa kemana-mana.
Telpon masuk itu mengabarkan kalau personil tim kurang hingga mau gak mau suamiku harus batal berangkat. Apakah suamiku maksa pulang kampung? Kebetulan suami bukanlah orang yang berani melanggar, jadi beliau sudah mengecewakan kakak dan keponakan-keponakannya sore itu. Suamiku tetap berangkat tapi untuk dinas, tidak jadi takziyah kakak iparnya. Mungkin hal ini yang membuat keponakannya itu terluka, sakit hati hingga membuatnya marah dan bersikap sedemikian rupa.
"Atau karena kita orang miskin, Mi?" Begitu versi anak-anakku. Yah, aku sih berusaha sedapat mungkin bersangka baik dan itu kutanamkan pada anak-anak.
Ternyata diam-diam suamiku juga mendoakan keponakannya. Saya baru tahu saat membaca curhatannya. Yah, meskipun di depan kami semua seolah baik-baik saja, ternyata suamiku memendam rasa😥
Satu lagi, keponakan suamiku ini juga anti sekali pada aparat. Dia tentulah berkaca pada pamannya.
Namun ternyata Allah saja yang bisa membolak-balik hati. Penyebab lahiriahnya memang ada, yaitu adiknya diterima dan sedang menempuh pendidikan calon Bintara. Nyatanya walaupun anti aparat, tetap saja bangga saat adiknya sudah lolos dan lulus jadi TNI.
Sore tadi anak songong ini follow suamiku di medsos setelah sebelumnya memblokir karena kesal setiap saat diberi wejangan. Dia juga menyapa suami dan bilang kalau sekarang dia sudah mulai salat, alhamdulillah.
Dan pagi ini dia juga add akun facebookku meski dia belum kunjung menyapa walaupun sudah dikonfirmasi. Semoga ini menjadi awal yang baik. Kalau sekarang saya menyebutnya bukan anak songong lagi, melainkan insya Allah anak soleh😉
#ODOPOKT27

Minggu, 29 Oktober 2017

Sudah Kenal Sama Diri Sendiri?

Anak-anak kalau dari kecil tidak dididik rohaninya
Hanya diberi ilmu syariat-syariat yang lahir-lahir saja
Dia akan lebih kenal orang lain dari dirinya
Kejahatan orang lain dia lebih nampak dari kejahatan dirinya sendiri
Orang lain sombong atau ego dia nampak,
pada masa yang sama ego dirinya lebih besar dari orang itu dia tidak terasa
Di waktu dia susah orang tidak membantunya dia terasa
padahal dia sendiri tidak pernah membantu orang
dia tidak terasa satu kesalahan
Orang mementingkan diri dia tersinggung,
Dia mementingkan diri dia tidak sadar yang sudah jadi budaya
Orang lain bakhil dia nampak  tidak patut,
dia sendiri bakhil seolah-olah tidak mengapa
Orang tidak sabar dia nampak sangat,
dia tidak sabar payah dia hendak memahaminya
Begitulah manusia jika tersalah didik dari kecilnya
Soal-soal roh atau hati,
yang ada hubungan dengan mahmudah dan mazmumah
tidak pernah dia kenal
Kalaupun dia diajar tentang Islam
hanya banyak menekankan syariat lahir semata-mata
Akibatnya dia tidak kenal diri sendiri
Tidak kenal diri sendiri artinya tidak boleh nilai diri
Tidak boleh nilai diri sendiri, kejahatan orang lainlah yang dia nampak
Kejahatan diri sendiri dia tidak nampak
Kejahan diri sendiri dia tidak sadar
Makanya dia selalu menuding jari kepada orang lain
Dirinya terkecuali dari kesalahan
Banyak manusia di dunia hari ini bersikap begini termasuk saya. Ini adalah ingatan buat diri sendiri.
#ODOPOKT26

Jumat, 27 Oktober 2017

Mau Dakwah? Ngeblog Aja!

Dunia perbloggeran sekarang ini meriah sekali, bukan saja diisi oleh kaum adam, namun juga kaum hawa, terutama juga kaum muslimahnya.
Tidak bisa dipungkiri kebutuhan akan informasi seputar dunia muslimah besar sekali, dan biasanya yang banyak dicari adalah dunia parenting, dunia kerja di lingkungan muslimah, fikih, dll. Syukurnya kebutuhan ini sedikit banyak sudah terpenuhi oleh hadirnya para blogger dari kalangan muslimah.
Sebenarnya tulisan di blog seperti apa sih yang diminati? Sudah pasti yang memberikan informasi dan menginspirasi, juga enak dibaca dan bikin betah. Mungkin salah satu sebab inilah yang membuat sebagian para emak lebih senang baca blog daripada baca buku. Di blog bebas menulis dengan gaya apa saja, dari mulai yang serius sampe yang koplak, dari mulai yang curhat sampai yang marah-marah, beda dengan bahasa buku yang ada batasan tertentu. Walaupun kalau saya pribadi lebih senang baca buku karena alasan penglihatan.
Jadinya para blogger berjasa memberi informasi dan inspirasi pada pembacanya. Jadinya jalan dakwah lewat blog bukanlah hal yang mustahil. Dakwah itu bukan berarti kita sudah banyak ilmu, kita sok suci atau kita sudah merasa baik dibandingkan orang lain. Sambil kita menyampaikan dakwah lewat tulisan, sambil kita sendiri terus belajar, belajar dan belajar. Karena kita hanyalah hamba yang lebih sering banyak lalainya. Jadi kalau kita menuliskan kebaikan atau dakwah sambil kita memohon pada Allah agar jangab sampai datang ujub dan riya. Setiap kali menulia hendaklah minta Allah saja yang mengilhamkan isi tulisan kita. Semoga jika yang kita tulis itu dari hati akan sampai pula ke hati.
Semoga semakin banyak tulisan dari blogger muslimah yang menginspirasi, memberi ilmu dan dapat membantu banyak orang.
#ODOPOKT25