Rabu, 04 Oktober 2017

Berjuang

Anak ketiga saya pernah bertanya, "Ummi, memperjuangkan Islam itu gimana sih? Kok mereka yang ngebom-ngebom itu bilangnya jihad fisabilillah, padahal merekakan dzalim?"  Pertanyaan kritis dari seorang bocah SD yang kala itu baru duduk di kelas 4 setelah mendengar berita sambil lalu membuat saya berpikir memberi jawaban yang semoga bisa dia pahami.
"Memperjuangkan Islam itu bukan dengan cara jihad seperti itu. Kalau itu sih bukan jihad tapi jahat. Matinya juga bukan mati syahid, melainkan mati sakit," jawab saya. Tak disangka anaknya malah menganggap saya bercanda.
"Ah, Ummi, Habib nanya serius nih, malah bercanda," diapun berlalu dan main dengan adik-adiknya. Tinggal saya yang berpikir keras harus memberi penjelasan apalagi padanya.
Memperjuangkan Islam itu bukan sekedar memberitahu halal haram. Membangun Islam juga bukan mengecap seseorang itu bid'ah, fasik, sesat, munafik atau ekstrim. Yang namanya memperjuangkan Islam itu bagaimana menyuburkan tauhid dalam pikiran. Siapa yang takut Allah dan mencintai serta menghayati Allah hingga menjadikannya tempat mencari jawaban dan tempat menaruh harapan.
Allah dibesarkan, diagungkan bahkan tempat sandaran insan hingga Allah diingat di mana-mana dan dirasakan Allah adalah segala-galanya. Dari sini barulah orang mau bersyariat sebagai wujud cinta kepada Allah. Dari sini orang akan cinta-mencintai sesama insan. Orang akan bersatu padu, rasa bersama dan bekerja sama, lahirlah keinginan untuk mengutamakan orang lain, membantu karema Allah. Contohnya adalah orang kaya dermawan karena pemurahnya hanya menginginkan cinta Tuhannya. Orang cerdik pandai begitu rendah hati ketika yang bodoh bertanya padanya.
Berjuang itu artinya adalah menunjukkan jalan bagaimana mengutamakan akhirat. Menggunakan apa yang ada dari diri kita. Memberitahu bagaimana bersatu di dalam Islam, maju secara Islam, berhibur mengikut Islam. Menunjuk jalan bagaimana berekojomi menurut Islam, bermasyarakat secara Islam. Yang lebih penting adalah contoh bagaimana pejuang memperjuangkan itu semua. Ibadahnya, perpaduannya, masyarakatnya, ekonominya, keluarganya, kebersihannya, kasih sayangnya, kerja samanya dan lain-lain itulah perjuangan Islam sebenarnya. Bukan sekedar kata-kata, slogan dan ceramah.dan semangat-semangat yang tidak ada panduan. Kalau cara seperti itu umat Islam berjuang maka cepat membatalkan tujuan atau hanya sekedar angan-angan bahkan membawa perpecahan.
Para pejuang seharusnya cukup persiapan. Persiapan ilmu dan contoh. Berjuang itu tidak mudah, bukan sekedar seperti makan minum atau berpakaian. Berjuang itu berat.
Syukurlah anak saya paham. Pahamnya bertahap. Sekarang di kelas 2 SMP dia sudah dipercaya mengetuai beberapa kolam ikan di sekolahnya. Itu salah satu contoh perjuangannya membangun ekonomi Islam, yaitu di sektor peternakan ikan.
#ODOPOKT3

Selasa, 03 Oktober 2017

Mengelola Susah Hati

Siapa yang tidak pernah merasakan sakit hati? Semua orang pasti sudah pernah merasakannya. Sakit hati membuat hati jadi susah, susah hati. Susah hati itu kalau diingat-ingat terus akan jadi penyakit jiwa.
Dari susah hati jadi sedih, dari sedih jadi derita dan sengsara, ujung-ujungnya kecewa dan akhirnya putus asa.
Saya pernah menemani seorang ibu yang suaminya berpangkat lebih tinggi dari suami saya. Kami mengunjungi seorang ibu juga yang kebetulan pangkatnya lagi-lagi lebih tinggi dari suami saya. Berkunjung ke rumah seseorang itu biasa saja, yang tidak biasa adalah saat cangkir teh yang disuguhkan ternyata tidak ada yang untuk saya. Teh hangat itu khusus disediakan untuk ibu yang pangkat suaminya lebih tinggi itu. Bagaimana rasanya hati saya saat itu? Udah pasti nyesek. Bukan masalah tehnya tentu saja, namun perlakuan orang itu pada saya. Rasanya pengen marah, tapi buat apa?
Memiliki keistimewaan dunia bukanlah segala-galanya sekalipun tidak salah memilikinya. Kebahagiaannya sementara atau kebahagiaan tipu daya, tidak sampai ke ujung, akhirnya kecewa.
Kebahagiaan bersama Tuhan adalah hakiki sejati, kekal abadi. Tuhan adalah segala-galanya, keistimewaan dunia tidak memilikinyapun tidak mengapa. Tapi kalau kehilangan Tuhan maka segala-galanya tidak ada arti apa-apa. Tapi kalau dapat kedua-duanya yaitu dapat Tuhan, miliki dunia juga sudah pasti menambah bahagia.
Bahagia dengan Tuhan tidak cukup percaya saja sekalipun banyak ibadahnya. Bahagia dengan Tuhan haruslah kenali Dia kemudian bisa takut dan cinta dan yakin pula dengan peranan Tuhan. Apa yang Allah lakukan kepada kita tidak pernah ada yang sia-sia. Apa yang Allah lakukan kepada kita biarpun secara lahiriahnya kelihatan negatif maupun positif sudah pasti ada hikmah dan pengajarannya. Allah adalah Tuhan yang Maha Suci dari menganiaya. Kalau kita pandai menerimanya, di situlah ada kebahagiaan. Kalau kita paham apa maksud Allah, maksud Allah melakukan segala sesuatunya kepada kita, insya Allah kita ridlo dan jiwa akan tenang.
#ODOPOKT2

Senin, 02 Oktober 2017

Mendongeng Sejarah

"Umi, ayo dong cerita lagi," tagih anak-anak kalau seharian saya absen 'mendongeng'. Mendongeng di sini adalah cerita-cerita soal masa lalu. Masa lalu siapa? Siapa saja, yang terlintas dalam kepala atau dari pertanyaan-pertanyaan anak-anak, misalnya saat anak-anak bertanya soal Rohingya, mau tidak mau saya harus tahu sejarah dan latar belakangnya. Dan biasanya karena dongengan saya lebih sering tidak terencana, maka biasanya cerita bisa merembet kemana-mana, misalnya dari cerita Rohingya bisa merembet ke cerita nabi-nabi, tak jarang nyempil pula cerita tokoh-tokoh pahlawan nasional.
Apakah rutinitas saya bersama anak-anak itu sedang belajar sejarah? Sebetulnya saya tidak menyadari sampai guru anak saya yang keempat memberi kabar kalau Adib bisa menceritakan dengan runtut kisah nabi Yunus as di depan kelas padahal materi itu belum pernah diberikan.
Ternyata asik juga ya belajar sejarah dalam kondisi tidak formal, serasa hanya ngobrol-ngobrol sayang saja, padahal selama ini saya beranggapan bahwa belajar sejarah adalah suatu kegiatan yang sulit karena banyak hafalan tanggal, nama tempat dan sebagainya. Memang sih anak-anak juga tidak mengingat sepenuhnya soal angka-angka itu.
Jangan sekali-kali melupakan sejarah! Begitu pesan bung Karno atau biasa disingkat jadi akronim jas merah. Memang belajar sejarah sebenarnya membuat kita memiliki wawasan yang lebih luas. Selain itu ada juga hal lain yang menguntungkan, antara lain :
- Pengalaman
Sebelum film G 30 S/PKI diputar ulang bulan kemarin, saya sudah sering mengulang-ulanc cerita soal PKI dan pahlawan revolusi, terutama pada anak-anak saya yang sudah remaja, hingga mereka penasaran sekali saat akhirnya film itu diputar ulang. Kami sampai diskusi seru saat itu.
Anak-anak bersyukur tidak mengalami kejadian pahit itu. Ya, sejarah memang memberikan kita pengalaman tanpa perlu merasakan langsung. Kita tidak perlu ada dalam situasi mencekam itu tapi kita bisa membayangkan bagaimana perasaan pada saat peristiwa itu berlangsung.
Pengalaman-pengalaman itu akhirnya membuat kita memiliki pengetahuan baru akan hal-hal yang telah terjadi. Ketika itu salah, kita bisa menghindar dari pengulangan dan kita juga jadi tahu apa yang harus kita teruskan.
- Masa depan
Dari pengetahuan yang kita dapat mengenai hal-hal yang telah terjadi, kita jadi punya kemampuan untuk memprediksi yang mungkin terjadi ke depannya. Jika dulu kita berperang karena diadu domba, maka supaya tidak terjadi lagi di masa depan, maka kita harus cerdas menerima saran dan pendapat.
- Cerita
Mungkin kita harus mengubah pola pikir selama ini tentang sejarah. Sejarah bukanlah sebuah hafalan, melainkan sebuah cerita. Melalui belajar sejarah, kita jadi tahu asal mula terjadinya suatu hal, melihat perubahan zaman dan juga budaya dulu dan sekarang.
-Nilai-nilai
Satu hal yang kita dapat adalah sejarah sarat akan nilai-nilai. Melalui sejarah, kita jadi tahu bahwa persatuan, toleransi dalam perbedaan, nasionalisme dan nilai-nilai lainnya merupakan hal yang penting untuk ditanamkan pada diri sendiri.

Jangan lupa, Al-Quran juga berbicara tentang sejarah, itu artinya Allah menyuruh kita untuk mengetahui sejarah, mempelajari dan tidak melupakannya. Di dalam ayat-ayat Al-Quran diceritakan bagaimana kisah perjuangan para nabi-nabi Allah dalam menegakkan tauhis di muka bumi. Selain itu ada kisah hikmah yang didapat menjadi teladan hidup bagi seluruh umat manusia meskipun beliau bukan nabi dan rasul.
Kalau kita menyimak surat Quran Az-Zukruf: 55-56 Allah berfirman :
"Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan, mereka semuanya (di laut), dan Kami jadikan mereka sebagai pelajaran dan contoh bagi orang-orang yang kemudian."
Jelas ya, Allah menegaskan kalau sejarah jadi pelajaran bagi generasi mendatang. Dari kisah Al-Quran yang menceritakan kaum yang ingkar kepada Allah sampai dibinasakan, kita bisa mempelajari karakter kaum tersebut, bagaimana kebudayaannya, bagaimana kehidupan sosialnya, sebab-sebab bangsa tersebut dimusnahkan dan sebagainya. Sejarah juga bisa dijadikan evaluasi bagi masyarakat untuk memperbaiki dan tidak mengulangi kejelekan yang telah dilakukan oleh generasi masa lalu. Sejarah juga sebagai pembanding kehidupan masa lampau dengan masa kini.
Karena kita juga bagian dari sejarah, maka saya juga sering menceritakan masa kecil dan masa muda saya, ibu bahkan kakek neneknya pada anak-anak. Kalau ada hal baik bisa ditiru dan ditingkatkan, sebaliknya kalau ada salah-salah ya diperbaiki, bukan untuk ditiru atau mengulangi kesalahan yang sama.
#ODOPOKT1
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Post Blogger Muslimah Indonesia.

Jumat, 16 Juni 2017

Ujian yang Mendewasakan



Menjalani hari demi hari, bukan peristiwa manis saja yang akan kita temui, namun seringkali hal-hal pahit mengampiri di luar batas kemampuan kita dan tanpa diduga. Betapa kita sudah berusaha menghindarinya, namun kuasa bukan berada di tangan kita. Seperti halnya saya yang harus merelakan  kepergian anak yang tiba-tiba tanggal 25 November 2016 lalu. Saat itu rasanya hidup sudah berakhir detik itu juga. Ingin rasanya nafas terhenti sebelum segala proses pengurusan almarhum dimulai hingga pemakaman. Namun nyatanya Tuhan tidak menghendaki itu, bahkan saat itu saya masih bisa tegak menerima para tamu dengan senyuman, saya tidak pingsan, tidak meraung atau semacamnya,  sampai ada bisik-bisik mampir ke telinga.
“Kok masih bisa senyum, ya?” Bisik ibu yang satu ke telinga seorang ibu di sebelahnya.
“Belum rasa aja, coba kalau kita semua udah pulang, baru deh kerasa kehilangan,” sahut ibu yang dibisiki. Mereka tidak tahu saja kalau saya sudah 2 kali ganti pakaian karena basah oleh  air mata sebelum mereka kemari.
Namun nyatanya pernyataan ibu itu benar, kesedihan, kepedihan, rasa sesak di dada tiba-tiba mengoyak saat rumah sudah sepi, hanya tinggal kami yang termangu masih tak percaya dengan yang baru saja terjadi. Hanya satu yang saya minta saat itu pada Tuhan yaitu supaya saya masih diberi kewarasan, karena kehilangan anak sama artinya seperti kehilangan nyawa sendiri, separuh jiwa serasa pergi. Dan saat malam tiba adalah saat di mana kesedihan itu seolah mencengkeram tanpa ampun. Saya tidak bisa lagi memberinya ASI sambil memeluk dan sesekali menciumnya. Saya tidak bisa lagi mendengar tangisannya. Pada akhirnya malam terasa begitu panjang karena kantuk tak juga menyapa. 

Muhammad Al-Fateh yang dirindui
sepasang mata bening yang menggemaskan
Sehari dua hari saya tak sanggup untuk makan, bahkan hanya secuil kue saja saya tolak, dan hal itu berlangsung sampai seminggu penuh. Hanya air putih yang sanggup melewati kerongkongan. Anehnya ASI masih saja penuh hingga mendesak-desak keluar, merembes, hingga sehari bisa beberapa kali ganti baju karena basah oleh ASI, dan itu semakin membuat dada sesak. Hanya minum saja ASI saya begitu deras, bagaimana kalau saya sanggup makan? Namun akhirnya kesehatan saya menurun, badan lemas dan virus penyakit begitu mudah menghampiri. Pekerjaan rumah tak lagi sanggup saya kerjakan. Dalam kondisi terbaring itulah keinginan membaca buku begitu menggebu untuk mengusir kebosanan. Saya membaca buku-buku anak TK sampai buku tebal-tebal. Di sana saya belajar rukun iman lagi, belajar hakikat hidup lagi. Mempelajari ilmu kehidupan yang sudah banyak saya lupakan. Saya menangis lagi saat mendengar nasyid tentang kasih sayang Tuhan yang disampaikan melalui kesusahan. Tangisan kali ini bukan meratapi kepergian anak saya, melainkan tangisan keinsyafan, tangisan penyesalan karena telah ‘sejenak’ pergi meninggalkan Tuhan, padahal Tuhan sedang memanggil dengan kasih sayang-Nya melalui ujian kesusahan.
Pada akhirnya saya akur dengan kenyataan hidup yang harus saya jalani, saya paksakan untuk makan, masih banyak orang-orang di sekeliling saya yang harus saya perhatikan, masih harus saya urusi dan merekapun sayang pada saya. Suami saya juga memberikan multivitamin-mineral untuk mempercepat pemulihan kondisi tubuh saya. Alhamdulillah kondisi saya pulih dalam waktu singkat,padahal saya baru makan beberapa potong buah saja.  Sejak saat itu saya bisa beraktifitas kembali seperti biasa. Memangnya sedihnya sudah hilang? Tentu saja masih, rasa sedih, rindu  dan pengharapan datang silih berganti. Apalagi saat membereskan perlengkapan almarhum, tak bisa diungkapkan rasanya, bahkan hanya melihat panci yang selalu dipakai untuk merebus air mandinya saja hati serasa remuk lagi, air mata tak terbendug lagi. Lebih-lebih kalau ASI sudah penuh, merembes dan membasahi baju, rasa penyesalan menyeruak kembali, dan ASI saya baru mengering sampai sebulan setelah kepergiannya.
Sebelum 40 hari dirundung duka, saya menawarkan diri untuk mengajar di Rumah Amal Anak Kesayangan di Sentul Bogor. Saya berharap aktifitas saya di sini akan memberi semangat positif pada diri saya selain ‘kesadaran’ yang telah saya dapat tentang penerimaan pada takdir Tuhan. Ternyata menghibur anak-anak mampu menghibur diri saya sendiri. Berbagi cerita-cerita teladan pada jiwa-jiwa yang masih suci itu, diselingi celetukan-celetukan naïf dari bibir-bibir mereka, mampu meminggirkan kedukaan saya. 



anak-anak adalah cahaya mata

keceriaan mereka menularkan semangat
Sekarang aktifitas saya sudah berjalan normal seperti sebelum saya melahirkan, mengurus rumah, anak-anak suami, mengajar dan masih bercengkarama pula dengan anak-anak di Rumah Amal Anak Kesayangan. Seringkali saya dibuat malu oleh mereka, karena kesusahan mereka jauh lebih besar daripada ujian yang Tuhan beri pada saya namun mereka masih bisa menjalani hidup dengan ceria. Mereka masih anak-anak, namun kebahagiaan masa kanak-kanak terenggut oleh keadaan. Ajaibnya tidak ada duka di wajah-wajah bening mereka, meskipun mereka ada yang yatim atau piatu dan terhimpit oleh kemiskinan.
"Kesusahan akan membuat kita lebih sensitif dengan pnderitaan orang," ujar teman saya. Ya, saya akur karena kita akan lebih empati, lebih simpati pada kesulitan orang lain jika kita sudah pernah merasakannya. Bukan berarti orang yang tidak pernah merasaan kesusahan tidak bisa berempati pada orang lain, namun dengan adanya ujian kesusahan itu artinya adalah pendewasaan. Belum tentu yang usianya dewasa jiwanya juga sudah dewasa. Dengan adanya kesadaran untuk apa kita hidup, maka ujian-ujian yang datang,baik ujian kesenangan maupun ujian kesusahan semuanya bisa mematangkan jiwa kita, mendewasakan kepribadian kita, hingga kita bisa lebih bijak dalam menyikapi hidup.
Kalau aktifitas sudah padat, seringkali saya lupa dengan jadwal makan dan asupan gizi yang baik, hingga penyakit dengan mudah menghampiri.

 
 

Senin, 29 Mei 2017

Kehangatan di Perumahan Paspampres



Saat awal pindah ke Perumahan Paspampres Cileungsi pada April 2001 lalu, ada kekhawatiran yang besar dalam diri saya mengenai pergaulan dengan warganya yang mayoritas berisi anggota keluarga Paspampres. Kekhawatiran saya beralasan karena sejak kecil sudah sering disuguhi cerita yang ‘seram-seram’ dari komplek TNI secara umum.
Namun kala kami baru beberapa menit melepas penat setelah perjalanan dari Bandung ke Cileungsi, beberapa ibu-ibu mengetuk pintu untuk menyapa dan berkenalan. Alangkah lega dan bahagianya saya karena kekhawatiran saya tak terbukti. Bukan sekedar menyapa, ibu-ibu yang kesemuanya adalah istri anggota Paspampres itu juga menyambut amat baik kehadiran kami di situ.
“Kalau ada apa-apa jangan sungkan-sungkan minta tolong sama kita-kita,” ujar ibu yang terlihat lebih dewasa usianya.
“Iya, ketok pintu aja, pasti kami buka biarpun tengah malam,” sahut yang lain. Tawa kamipun berderai. Leganya saya karena di hari pertama sudah disambut dengan hangat.
Beberapa minggu menjalani aktifitas di perumahan itu, membuat saya hapal dengan rutinitas ibu-ibunya. Pagi-pagi setelah Subuh, kurang lebih pukul 5 setelah truk atau bis jemputan berangkat, sebagian kecil dari kami akan langsung meluncur ke tukang sayur yang lebih akrab disapa bude sayur. Saya memilih belanja pagi karena anak saya yang masih balita sedang lelap, sehingga saya bisa bebas melakukan aktifitas domestik. Sekitar pukul sembilanan pagi, beberapa ibu-ibu akan sudah berjejer di kursi bambu panjang yang entah sudah ada di sana sejak kapan, kalau tidak beberapa ngobrol di teras salah satu rumah. Namun kebiasaan ini berubah seiring bertambahnya usia anak, anak-anak yang mulai sekolah akan diantar ibunya sedangkan yang sudah besar sedikit sudah tak lagi diantar, sehinga ada pergeseran ibu-ibu yang melepas penat di kursi bambu itu. Saya sendiri memilih tidak tiap hari menjalani rutinitas itu, karena ada kegiatan lain yang lebih banyak menyita waktu, seperti menulis, membaca, merajut atau menjahit pakaian anak dan yang pasti bermain dengan anak. Memang pada awalnya saya sering dihampiri untuk diajak kumpul-kumpul, namun lama kelamaan mereka sudah hapal kalau saya hanya akan ikut kumpul sekali-kali saja. Kalau dihitung-hitung seminggu paling banyak tiga kali. Tiga kali itu benar-benar tiga kali seminggu, misalnya kalau saya sudah kumpul pagi maka sorenya saya akan absen, sedangkan kalau pagi saya belum ikutan nimbrung, sorenya saya hadir. Kalau yang lain betul-betul pagi dan sore. 
Pernah suatu kali saya selama seminggu penuh tidak keluar karena ada buku yang sedang serius saya baca, saat itu saya punya target baca buku one day one book, alhasil hampir satu gang ibu-ibu mengunjungi saya semua karena mereka cemas saya sedang sakit, mereka tidak mendapati saya juga di tukang sayur karena saya belanjanya saat langit masih gelap. Alangkah terharunya saya mendapatkan perhatian seperti itu. Seumur hidup baru kali itu saya merasakan betul-betul rasa kekeluargaan yang mendalam walaupun kami bukan satu ayah satu ibu dan bahkan sebelumnya tidak saling kenal.  

Kenangan anak-anak waktu masih di perum Paspampres.
Yang paling mengharukan adalah tatkala listrik di rumah saya mati sedangkan suami sedang naik dinas dan pakde yang biasanya membetulkan listrik tidak berani membongkar boks meteran listrik karena illegal. Listrik mati sama artinya dengan tidak nyala air karena kami menggunakan sumur bor dan pompa air. Persediaan air di bak kamar mandi dan di tiga ember di dapur ternyata habis hanya dalam sehari.
Saat saya hendak minta seember air ke rumah tetangga, beliau merasa tak tega demi melihat perut saya yang besar karena sedang hamil tua anak kedua dengan tangan kiri menggandeng tangan si sulung dan tangan kanan menenteng ember.
“Sudah, Ibu di rumah saja, biar kami yang urus,” ujarnya. Saya menurut lalu kembali ke rumah.
Beberapa saat kemudian pintu rumah diketuk, ternyata ada beberapa bapak-bapak ditemani istri-istrinya membawa selang lumayan panjang.
“Yang mau diisi air di mana, Bu? Kamar mandi ya?” Tanyanya. Saya yang masih terheran-heran hanya mengangguk. Ditemani istrinya, bapak itu lalu menuju kamar mandi. Beliau memberi kode kalau sudah siap dan istrinya menuju pintu untuk memberi kode lagi pada tetangga di depan rumah. Tak lama air mengalir deras memenuhi bak kamar mandi saya. Saat itu saya baru menyadari kalau mereka sedang berbondong-bondong membantu saya memberi air.
Setelah bak kamar mandi penuh, kembali istrinya memberi kode untuk mematikan air.
“Yang mana lagi yang mau diisi air, Bu?” Tanya bapak itu lagi. Saya menunjuk pada tiga ember yang ada di dapur. Lagi-lagi sang istri memberi kode untuk menyalakan air. Ya Tuhan, malam itu saya bisa lega karena bukan hanya seember air saja yang saya dapat, tapi melimpah. Bukan air saja yang saya rasa melimpah, namun juga limpahan kasih sayang mereka kepada saya. Saya langsung menangis saat itu juga sambil tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih.
Keesokan harinya saya baru tahu kalau semalam ada delapan rumah yang meminjamkan selang demi air itu sampai ke rumah saya, karena saat itu rata-rata di tiap rumah hanya memiliki selang berukuran pendek. Lagi-lagi saya terharu, terbayang kehebohan mereka menyambung-nyambungkan selang, tentulah bukan perkara mudah, apalagi kalau diameter selangnya sama atau berbeda jauh, tentu lebih sulit lagi. Saya bersyukur Tuhan menempatkan saya di perumahan ini.
Di samping cerita mengharukan, ada pula cerita lucunya. Di perumahan itu ada rutinitas mengaji setiap Kamis sore dan saat saya akan ke warung di hari Selasa sore ada seorang ibu yang kebetulan belum saya kenal terheran-heran melihat saya.
“Emang pengajiannya sekarang ganti hari, ya, Bu?” Tanyanya. Gantian saya yang bingung.
“Kayaknya nggak, deh, Bu, memangnya kenapa?” Tanya saya.
“Ibu habis pengajiankan?” Tanyanya lagi. Saya menggeleng.
“Saya mau  ke warung, Bu, bukan habis pengajian,” jawab saya.
“Lah, mau  ke warung kok pakai kerudung?” Tanyanya heran. Saya juga semakin bingung.
“Saya pakai kerudung sejak sekolah, Bu, jadi pengajian nggak pengajian saya tetap pakai,” jawab saya terkekeh, ibu itupun tertawa. Kamipun akhirnya berkenalan dan berteman akrab. Saat tahun 2001-an itu kerudung atau jilbab memang belum ngetren seperti sekarang, jadi masih banyak yang merasa janggal melihat orang memakai kerudung tapi kegiatannya di luar pengajian atau kegiatan keagamaan.
Yang lebih lucu lagi adalah saat ada seorang ibu langsung menawari saya kerokan, jamu masuk angin dan bahkan langsung membawakan minyak angin ke rumah saya.
“Ibukan lagi masuk angin, sini saya kerokin biar sembuh,” ujarnya sok tahu. Saya bingung.
“Saya nggak masuk angin, Bu,” jawab  saya.
“Lho tapi tadi ke warung kok pakai kaos kaki? Apa namanya itu kalau nggak masuk angin?” Ujarnya lagi. Ya Tuhan, ingin sekali saya tertawa sampai guling-guling, tapi tentu saja ditahan.
“Oalah, sejak saya pakai kerudung saya juga pakai kaos kaki, Bu,” ujar saya.
Beliau lalu bertanya-tanya lebih banyak lagi dan akhirnya saya berbagi ilmu agama padanya.
Ada keharuan, kelucuan namun tak luput pula ada pergesekan-pergesekan sesame warga perumahan, terutamanya antar ibu-ibu. Sebisa mungkin saya menghindar kalau hal itu sampai terjadi atau hampir terjadi, saya selalu ingat pesan suami agar saya menjaga pergaulan, maksudnya pergaulan yang sudah terbina dengan baik jangan sampai dikotori oleh hal-hal sepele yang bisa merusak kasih sayang. Dan kebanyakan yang saya temui memang hanyalah hal sepele dan remeh temeh yang sebenarnya bukanlah masalah tapi anehnya menjadi masalah. Contohnya adalah saat tidak kebagian tempe di bude sayur, hal itu pernah saya alami kala saya belanjanya kesiangan. Saya kaget kala ada seorang ibu berkata keras dan lantang karena melihat tempe di tangan saya, beliau berpendapat kalau tempe itu adalah haknya karena lebih dulu datang dibanding saya. Karena teringat pesan suami sayapun mengalah meskipun sebenarnya saya dongkol bukan main. Sebelah saya membisiki kalau ibu itu memang senang cari ribut, kalau pagi itu tidak ketemu saya, mungkin ibu tadi sudah bertengkar dengan yang lain hanya gara-gara masalah tempe.
Masih banyak perkara-perkara lain yang kalau saya ceritakan di sini mungkin akan menjadi berjilid-jilid judul novel. Yang pasti saya bangga menjadi seorang istri prajurit dan tinggal di perumahan yang sebagian besar berisi anggota dan keluarga prajurit juga. Ada kebersamaan dan ada kekeluargaan yang akan selalu saya rindukan sepanjang sisa umur saya.
Itu sedikit cerita saya selama 4 tahun tinggal di perumahan Paspampres Cileungsi Bogor.

Sabtu, 04 Maret 2017

Menjangkau yang Jauh

"Alhamdulillah akhirnya kita nyampe juga ya, Mi?" Seru anak-anak nyaris berbarengan saat kaki kami menginjak museum Tekstil Indonesia. Penat yang terasa selama naik turun angkutan kota, bis sampai taksi hilang sudah. Ada haru yang tiba-tiba menyeruak, bukan apa-apa, sudah hampir 2 tahun si sulung memintaku mengajaknya ke museum ini. Sejak kecil minatnya terhadap dunia perkainan sangat besar. Sejak TK dia cerewet sekali bertanya bagaimana kain dibuat, dari apa sampai mengapa batik hanya ada di Indonesia dan coraknya berbeda di setiap daerah. Menanggapi berbagai pertanyaan darinya saya hanya mengandalkan ensiklopedia seadanya dan paman Google, namun ternyata hal itu belum cukup. Saat tahu di Indonesia ternyata ada museum Tekstil, si sulung bersemangat sekali ingin ke sana, apalagi waktu browsing tidak banyak yang membahas tentang museum yang bangunan asalnya adalah rumah tinggal warga berkebangsaan Perancis pada akhir abad ke-19. Sayang sekali karena museum ini mempunyai visi dan misi untuk kebudayaan Indonesia, yaitu sebagai tujuan wisata dan edukasi pertekstilan pada masyarakat umum. Misi museum ini juga melestarikan, mengembangkan dan memanfaatkan budaya tekstil tradisional. Selain itu juga mengangkat citra dan apresiasi warisan budaya kain tradisional Indonesia. Museum ini juga melaksakan kegiatan pameran, penyuluhan, pelatihan, workshop dan edukasi kultural.
Semua anak-anakku betah jalan-jalan di museum Tekstil ini meskipun yang lebih betah si sulung, dia betul-betul memelototi satu-persatu kain-kain yang dipajang, batik-batik, alat-alatnya, dsb.
"Mi, kapan-kapan kita balik ke sini lagi, ya?" Pintanya. Saya hanya bisa mengiyakan.
Yah, jalan-jalan ke museum kali ini memang karena undangan blogger dan Honestbee, tapi saya boyongan sama anak-anak karena jauh hari sebelumnya sudah pernah merencanakannya.
Acara seru-seruan bareng hari itu bener-bener seru, ditambah demo masak dari resep dapur ayah jadi menambah keceriaan, terutama anak-anak. Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman baru belanja menggunakan layanan Honesbee ternyata seru gila. Tak terbayangkan sebelumnya kalau belanja menggunakan layanan Honestbee semudah itu, padahal sebelumnya saya membayangkannya bakal ribet, lola, banyak syarat dan ketentuan, de el el, tapi ternyata mudah, ringan, tinggal pilih yang kita butuhkan, pilih waktu pengiriman, pilih metode pembayaran, beres. Tinggal duduk manis di rumah. Layanan ini saya rasa betul-betul menolong, kenapa? Karena seringkali kebutuhan pokok yang sedang kita perlukan tidak ada di sekitar kita, seringkali udah muter-muter supermarket, mini market sampai pasar tradisional tidak juga ketemu, dengan layanan Honestbee ini kita tinggal cari, ketemu, klik.
Hal terpenting lainnya adalah kita jadi gak lapar mata, membeli yang sebenarnya belum kita butuhkan, dengan adanya layanan Honestbee ini kita tahu yang betul-betul kita butuhkan apa saja karena posisi kita sedang di rumah. Dan yang paling unik sebenarnya adalah pilihan waktu pengantaran barang, seumur-umur saya belanja online baru kali ini ada opsi waktu pengantaran barang, jadi dua belah pihak masing-masing aman, karena ibaratnya sudah janjian.
Itu sekilas cerita jalan-jalanku ke Jakarta tanggal 26 Februari lalu dengan anak-anak, semoga secepatnya kami bisa piknik ke sini lagi.

Takwa dan Pengertiannya

Takwa itu sangat penting karena merupakan aset umat Islam dunia dan akhirat. Takwa juga sumber keselamatan dunia dan akhirat, kemenangan dunia dan akhirat dan juga perlindungan dunia dan akhirat.
Sejak dulu takwa inilah yang membawa bantuan Allah dam segala usaha ikhtiar umat Islam, terutama di kalangan para sahabat. Allah buka pintu hati manusia sehingga mudah menerima Islam dan mudah dalam perjuangan. Allah buka jalan untuk perkembangan Islam yang pesat. Allah buka jalan dengan didatangkan para pendukung yang mampu membangun umat. Allah datangkan rasa berani luar biasa kepada umat Islam dan rasa ketakutan yang amat sangat kepada penentang.
Di zaman para Tabiin yang mana golongan takwa masih banyak dari tahap pemimpin sampai rakyat biasa, maka Allah buka pintu ilmu pengetahuan dalam bidang kehidupan. Ketika Barat masih dalam era kegelapan, Islam justru sedang pesat berkembang dengan berbagai penemuan baru dalam ilmu pengetahuan.
Tapi semua itu telah berlalu dan sudah jadi fakta sejarah. Telah terjadi dan sudah menjadi fakta sejarah.