Tampilkan postingan dengan label BLOGGER MUSLIMAH OKT 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BLOGGER MUSLIMAH OKT 2017. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Oktober 2017

Rasa Hatiku Setelah Ibadah

Maaf kalau kali ini saya curhat soal rasa hati saya pada Allah saat melakukan ibadah.
Kalau aku menghadap-Mu saat ibadah
Hatiku mulai rasa susah dan gelisah
Aku mulai bimbang bagaimana nanti aku menyembah-Mu, sopankah atau sebaliknya?
Kalau aku lakukan juga, jawabannya tentu sama
Macam-macam rasa di dalam jiwaku
Takut, bimbang, gelisah dan resah
Apabila selesai, aku rasa belum beribadah
Hatiku susah dan gundah-gulana
Tapi apalah daya, sebatas itulah yang mampu
Takkan aku mengulanginya lagi
Nilai ibadahku
Macam tadi juga
Karena itulah Tuhan, setiap kali selesai salat
Aku dahulukan memohon ampun kepada-Mu terhadap salatku, setelah itu barulah dosa-dosaku
Begitulah juga setelah aku membuat dosa
Hatiku lebih parah, susah dan gelisah
Tapi aku ini lemah bermujahadah
Setelah itu aku ulangi lagi membuat salah
Hatiku susah lagi dan gundah
Tuhan! Engkau tampunglah ibadahku mana yang kurang
Maafkan aku yang tidak sempurna
Ampunkan aku mana yang terlanjur
Karena hal itu bukan aku suka
Itulah kelemahanku
Engkau pun tahu
Rahmat-Mulah yang aku pinta
#ODOPOKT24

Rabu, 25 Oktober 2017

Pendidikan Akhlak yang Sering Diabaikan

Membaca sebuah status di facebook tentang 2 anak kecil yang ngobrolnya pake bahasa Inggris tapi tidak berakhlak dan bahkan tingkahnya kurang ajar dengan berani mengata-ngatai orang yang lebih dewasa dengan umoatan-umpatan kasar dalam bahasa Inggris membuat saya miris.
Saya menemukan bukan anak kecil itu saja yang berperilaku tidak terpuji. Dan akhirnya saya tetiba ingin menuliskan ini :
Para pemimpin atau guru juga ibu bapa
Berbagai-bagai ilmu bisa diajarnya
Berbagai-bagai kajian bisa dibuat
Hingga bisa menyelam berbagai-bagai ilmu
Membuat berbagai-bagai kemajuan
Membangun tamadun material mengagumkan
Tapi hendak mengenal Tuhan tidak tahu
Apalagi hendak mengajar rasa bertuhan
Pemimpin ingin ditaati
Tapi pemimpin tidak tahu bagaimana rakyatnya hendak mentaati mereka
Guru-guru ingin mereka dihormati
Tapi tidak tahu bagaimana hendak mendidik murid-muridnya ke arah itu
Ibu bapa juga ingin anak-anaknya menghormatinya
Tapi tidak tahu hendak melakukannya
Berbagai-bagai kepakaran dimiliki oleh cerdik pandai
Mereka bingung bagaimana hendak menjadikan siswanya menghormatinya
Kasih dan sayang kepadanya, juga mentaatinya
Padahal baik pemimpin, guru, ibu bapa
Semuanya suka jika mereka dihormati
Oleh rakyatnya, oleh murid-muridnya dan oleh anak-anaknya
Di sini kita lihat para pemimpin, guru, ibu bapa
Berjaya membangunkan tamadun material dan fisik
Tapi mereka gagal membangunkan tamadun insaniah dan rohaniah
Oleh itu apa yang berlaku di dunia ini
Berjaya berilmu, tapi tidak berjaya menahan kegaduhan dan peperangan
Berjaya membangun dan berkemajuan
Tapi tidak berjaya menahan pengkhianatan dan penipuan
Kemajuan yang tinggi dapat dibangun
Tapi gagal menjadi manusia berakhlak tinggi
Banyak manusia yang pandai tapi pandai pula merampok dan mencuri
Perempuan berjaya sebanding dengan laki-laki
Tapi hilang malunya, hancur maruahnya
Negara menjadi cantik, komunikasi semakin mudah
Tapi di dalam ketakutan
Berjaya mendapat istri atau suami
Kedua-duanya berpendidikan tapi tidak mampu saling memahami
Artinya manusia gagal di dalam kejayaan
Akalnya berkembang, kemajuan luar biasa
Tapi hati atau jiwanya mati atau buta
Karena rasa bertuhan sudah tidak ada
#ODOPOKT23

Memberilah dan Jangan Meminta

Anak saya pernah ngadu kalau ada sekelompok temannya yang selalu bisik-bisik kalau dia lewat si depan mereka. Sekelompok anak yang oleh anak saya sisebut 'cabe' itu menurutnya sedang membicarakan dirinya. Macam-macamlah teori yang dikemukakan anak saya soal 'bencinya' anak itu pada dirinya. Sebagai ibunya, tentu saya merasa kesal, tapi di depan anak sudah pasti harus 'bermuka dua'. Saya menahan rasa kesal dengan memberinya banyak petuah. Alih-alih membelanya, saya malah memberinya kuliah soal memberi. Siapa sih yang tidak ingin kasih sayang? Siapa orangnya yang tidak suka disayang? Kita semua ingin kasih sayang, tapi kita sendiri tidak pernah memberi kasih sayang kepada orang
Kita juga inginkan keadilan, tapi coba kita ingat-ingat, pernahkah kita adil kepada orang lain juga?
Kita tidak suka dizalimi, tapi kita sadarkah? Kita selalu menzalimi orang, baik secara langsung maupun tidak secara langsung. Apakah disadari atau tidak, baik fisik maupun mental.
Kitakan manusia, apa yang kita suka, itulah juga yang disukai oleh orang lain
Apa yang kita tidak suka, itulah juga yang tidak disukai oleh orang lain. Janganlah minta orang lain memahami kita. Kita juga perlu paham atau bertimbangrasa kepada orang lain. Jangan tunggu orang lain memulai, kitalah yang harus memulainya lebih dulu. Jangan kita menagih dulu, kitalah yang lebih dulu memberi.
Yang dilakukan anak saya setelah itu adalah menyapa sekelompok anak yang sering berbisik-bisik itu. Tahukah endingnya? Meskipun sebelumnya mereka kaget banget karena anak saya menyapa mereka, tapi ternyata sekarang mereka berteman akrab😄
#ODOPOKT23

Senin, 23 Oktober 2017

Poligami? Berani? (3)

Ada satu cerita teman saya yang sudah saya anggap sebagai orang tua. Bukan hanya karena usianya yang sudah dua kali lipat lebih matang, namun pengalaman hidupnya sangat menginspirasi saya secara pribadi. Selain itu akhlaknya kepada orang juga baik sekali, pemurahnya jangan ditanya deh.
Wanita yang saya panggil kak Jah ini adalah seorang dosen di universitas negeri. Suaminya yang lulusan Australia bekerja di sebuah perusahaan ternama.
Setelah memiliki 4 anak, mereka mendapat tawaran untuk menolong seorang perempuan. Perempuan ini harus segera ditolong karena dia baru fokus belajar agama namun belum bersuami padahal usianya sudah sangat matang. Selain itu orangnya tidak kuat pendirian, demi menyelamatkannya secara akidah dan juga kehidupan, maka diperlukan seseorang untuk segera menolongnya.
Peluang ini tidak disia-siakan oleh kak Jah. Dengan gagah berani dia menawarkan diri menjadi tangan yang bersedia menolong perempuan itu. Menolongnya bagaimana? Dia mohon pada suaminya untuk mau menikahinya. Sepertinya gila ya, tapi begitulah tekad kak Jah yang ingin jadi orang bertakwa.
Sampai akhirnya kak Jah punya 2 madu sikap kak Jah semakin membuat kami haru. Anak-anak madunya diasuhnya dengan penuh kasih sayang layaknya anak sendiri. Apalagi istri ketiga suaminya masih sangat muda, hingga harus banyak belajar tentang mengurus rumah, mengasuh anak, melayani suami. Kak Jah istimewa di mata saya, tapi tidak pernah mau dianggap istimewa. Adik-adik madunya juga hormat dan segan semua padanya.
Ada satu cerita yang menurut saya lucu tapi membuat kak Jah sedih, yaitu mami mertua kak Jah yang tidak pernah menganggap keberadaan istri-istri anaknya yang lain kecuali kak Jah.
"Menantuku itu cuma kamu, bukan yang lain," begitu yang selalu dikatakan mami mertuanya. Kalau sedang berkunjung, hanya kak Jah yang akan disambut dan diajak ngobrol, yang lain dianggap tidak ada.
#ODOPOKT22

Poligami? Berani? (2)

Siapapun tidak mau dimadu, tidak mau suaminya menikah lagi, iyalah, apalagi kalau suaminya yang kegatelan pengen nikah lagi karena kepincut wanita lain, oh no no, hati istri mana yang tidak akan menjerit? Sudah pasti akan ditolak habis-habisan. Akhirnya nafsu jahat bertemu dengan nafsu jahat, perang deh!
Tapi bagaimana kalau yang minta menikah lagi adalah pemimpin? Pemimpin yang mau menyelamatkan seorang janda demi berubahnya sebuah status yang lebih terhormat?
Lagi-lagi teman saya yang mengalami poligami. Ya, saya memang hidup di lingkungan yang sebagian besar berpoligami, tapi semua suami-suami di lingkungan saya tidak ada satupun yang berpoligami karena kemauan sendiri.
"Kalau boleh memilih, saya gak mau menikah lagi, beraaat, tanggung jawabnya dunia akhirat, mendidik 1 istri aja udah berat, apalagi dua, tiga atau empat istri. Pening." Kurang lebih begitulah curhatan bapak-bapak yang sudah poligami di sini.
Ada satu teman saya yang suaminya disuruh mengambil tanggung jawab seorang janda yang ditinggal mati suaminya dan menanggung 2 anak. Meskipun berat, suami teman saya ini taat pada hasrat pemimpin. Selain janda, wanita yang dinikahinya itupun sudah berumur, jauh di atas umurnya.
Melihat kondisi yang seperti itu, teman saya dengan tulus ikhlas menerima kenyataan suaminya menikah lagi.
Apakah poligaminya lantas aman-aman saja? Ternyata oh ternyata, nafsu yang belum sepenuhnya terdidik yang lebih banyak berbicara.
Sang janda istri kedua ini punya pabrik garmen yang akhirnya diserahkan kepengurusannya pada sang suami. Akhirnya bisa merubah kehidupan mereka sebelumnya. Senang? Iyalah, secara materi memang senang, kebutuhan hidup tercukupi, susu anak tercukupi, bahkan jajan anakpun melimpah-limpah dari sebelumnya hidup susah. Namun ada konsekwensi yang harus dihadapi, yaitu semakin jarangnya suaminya pulang ke rumah karena harus mengurus pabrik. Pabriknya di Tangerang sedangkan istri pertamanya di Bogor. Pulangnya akhirnya paling cepat seminggu sekali. Nangis? Nangislah. Cemburu? Sudah pasti. Biarpun adik madunya lebih tua dan tidak lebih cantik dari dirinya, tetap saja membuatnya sesak nafas kalau membayangkan kebersamaan suami dan madunya.
Kalau bertemu tak saling tegur sapa, ibarat musuh, padahal masih satu keluarga. Jika suami berada di rumah istri pertama sang madu bolak-balik nelpon suaminya dengan alasan urusan pabrik, sedangkan sang istri pertama menelpon suaminya saat suami di Tangerang harus peras otak mencari alasan, dan biasanya alasan terampuh adalah curhat soal anak, yang anak sakitlah, yang anak nakalah atau anak jatuhlah, beragam alasan dibuat-buat.
Suaminya akhirnya pening hingga pada tahun 2009 menceraikan keduanya untuk dijadikan didikan. Hasilnya biarpun statusnya sudah bukan kakak adik madu lagi tapi ternyata mereka masih saling diam, gak saling tegur. Lucu ya?
Syukurlah di tahun 2010 suaminya merujuk kedua istrinya lagi meskipun belum berhasil berkasih sayang sampai sekarang, tapi ada perkembangan, mereka sudah saling tegur sapa meskipun sebatas say hello. Sebuah tanggung jawab pada Tuhanlah yang membuat suaminya merujuk kembali meskipun pening😅
#ODOPOKT21

Minggu, 22 Oktober 2017

Melahirkan Dibidani Suami

Masuk bulan Oktober entah mengapa dada saya begitu berat, apalagi mendekati tanggal 20. Tanggal itu adalah hari lahir Muhammad Al Fateh anak bungsu saya setahun yang lalu.
Setahun yang lalu, di tanggal 20 Oktober sejak ba'da Subuh sebenarnya saya sudah merasakn kontraksi, tapi karena mas suami baru pulang dari mendaki gunung Salak dengan kondisi badan beliau yang 'babak belur' : kaki bengkak dua-duanya, badan untuk ruku saat salat aja miring-miring karena sakit dan tangannya yang sakit, akhirnya membuat saya tidak mengutarakan keinginan saya untuk periksa. Siapa sih yang tega melihat kondisi suami seperti itu?
Nyatanya sampai lepas Isya belum ada kontraksi yang lebih hebat lagi, hanya sekali-sekali. Sampai akhirnya sekitar jam 9 malam baru terasa kontraksi yang lebih kuat. Saya bolak-balik ke kamar mandi memastikan bahwa rasa mulas saya ini benar-benar kontrakasi, bukan mules karena kebanyakan makan pedes😅
Suami yang sudah istirahat selepas Isya karena kondisi badannya yang kurang fit, tiba-tiba terbangun, mendekati saya lalu setengah berbisik, "gimana? Udah kerasa ya?" Tanyanya. Ih, dari mana ya? Kan saya diem aja?
"Udah istirahat aja, Mas, aku gakpapa kok," sahutku berharap aku melahirkan saat kondisi suami sudah pulih.
Tiba-tiba rasa mendesak di bawah perut semakin terasa, aku terbirit-birit ke kamar mandi, namun rupanya mas suami mengikuti. Dia menunggu di luar kamar mandi dan bertanya apa yang kurasakan, dia mau mengantar ke bidan atau dokter, tapi aku menggeleng dan tiba-tiba tak mampu berjalan. Suami memapah ke kasur dan bisa ditebak apa yang saya lakukan? Saya mengedan sekuat tenaga karena sudah tidak kuat! Dorongan mengedan yang kuat membuat saya sudah tidak peduli apakah saya berhadapab dengan bidan atau suami sendiri. Suami berasa bidan😆
Alhamdulillah bayi putih gendut dan ganteng lahir dengan selamat di rumah. Kulitnya putih bersih dan langsung saya beri inisiasi menyusui dini. Alhamdulillah suami gaj perlu antar saya ke klinik atau rumah sakit dengan kondisinya yang masih kesakitan begitu. Namun akhirnya semua kerempongan itu dilakukan dari A sampai Z oleh mas suami, dari mulai memoting tali pusar, mengeluarkan ari-ari, memandikan bayi sampai menguvur ari-ari selesai malam itu juga, dibantu oleh anak-anak yang sudah beranjak remaja. Ini anak gadisku yang membantu lahiran sekaligus memvideokannya sambil berlinangan air mata :
 Dia si ganteng lucu kesayangan si sulung :

#ODOPOKT20

Poligami? Berani?

Salah seorang tema saya sekitar 4 atau 5 tahun yang lalu menginginkan suaminya menikah lagi, bahkan dia sendiri yang mencarikan calon istri untuk suaminya. Sang suami sempat berkali-kali tidak mau dengan mengatakan belum siap, namun istrinya memaksa. Memangnya ada apa sih kok menyuruh suaminya nikah lagi? Padahak mereka keluarga bahagia lho, lengkap dengan ketujuh anaknya. Tapi teman saya ini keukeuh dengan kemauannya.
"Saya takut cinta saya ke suami melebihi cinta sama Allah dan Rasulullah. Kalau masih belum poligami saya gak bisa ngukur sejauh apa cinta saya ke suami dan sependek apa cinta sama sama Allah dan Rasul." Begitu ucapnya berulang-ulang. Alasan yang sungguh begitu menyulitkan suaminya untuk menolak.
Setelah suaminya menikah lagi, teman saya dan adik madunya itu kemana-mana berdua, ke pasar, masak, mengantar anak sekolah dan lain-lain dilakukan berdua. Teman saya itu bahkan sampai mengajari adik madunya semua kebiasaan suami, kesukaan suami sampai cara memijat yang disukai suaminya. Pokoknya kita yang melihat iri banget dibuatnya.
Sampai akhirnya adik madunya hamil, mulailah hatinya terasa sakit.
"Gak sanggup aku rasanya, gak sanggup," curhatnya pada kami.
"Yang sakit itu nafsu, terus lawan...lawan...sampai nafsu gak lagi menguasai," nasehat salah seorang dari kami.
Tak lama kemudian teman saya itu memberi kabar kalau dirinya hamil anak kedelapan padahal sebelumnya dia memastikan tidak akan berencana punya anak lagi setelah bungsunya lahir.
"Kehamilan ini membuat saya tenang, suami juga berimbang perhatiannya," ujarnya.
"Yang sakit itu sebenarnya nafsu, hamil lagi bukan solusi, yang penting kamu bisa melawan nafsumu itu, jihad yang paling besar melawan nafsu. Didiklah nafsumu itu, kalau terasa sakit, lawan! Minta bantuan Allah." Nasehat teman saya yang mendengar curhatannya. Oh iya, teman saya yang menasehati ini sudah memiliki 3 adik madu, dan sebelum kehidupannya aman damai seperti sekarang, mereka juga pernah mengalami huru-hara poligami.
Mendengar nasehat itu pecahlah tangisan teman saya yang baru poligami itu.
"Ternyata saya cemen, saya gak sekuat dugaan saya sendiri, saya belum kenal diri saya sendiri," ujarnya sesenggukan.
"Didik lagi, nafsu itulah yang membuat sakit, mujahadah lagi, lagi, lagi sampai kita mati." Nasehat itu semakin membuat teman saya meraung.
Mendidik nafsu memang bukan perkara mudah. Nafsu bukan untuk dihilangkan, tapi dididik. Kalau hilang, bagaimana kita ada selera makan? Bagaimana kita bisa memandang indah segala sesuatu yang cantik? Lawan nafsu kalau dia sudah mengajak pada kejahatan, karena sifat nafsu memang selaku mengajak pada kejahatan. Nafsu dan syetan selalu bekerja sama memperebutkan hati kita. Hati jadi rebutan malaikat dan syetan yang dibantu oleh nafsu.
Ending teman saya itu bagaimana? Setelah sempat huru-hara sampai pernah tidak serumah dengan adik madunya. Sekarang mereka hidup damai lagi dengan 8 anak dan tambah 2 anak dari adik madu. Hanya saja ada 1 kalimat dari suaminya yang selalu saya ingat yaitu : subhanallah setelah dimadu, istri saya yang manis dan baik hati ibarat kucing  persia berubah jadi garang seperti macan buas. Syukurlah sekarang sudah jadi kucing manis lagi, bahkan melesat jauh lebih baik dari sebelumnya, ibadahnya, perilakunya, nafsunya terdidik.
Poligami? Berani?
#ODOPOKT19

Fans Girl Kebablasan

Si sulung dapat pesanan membuat boneka salah satu grup boy band Korea. Sambil menggunting dan menjahit bahan dia curhat sama saya.
"Ini pesanan pembaca Wattpad Mbak, Mi," ujarnya. Dia terbiasa membahasakan dirinya dengan sebutan : mbak.
"Kok aneh ya, Mi, dia inikan umurnya udah 25, udah kerja tapi masih ada ngejomblo." Sambungnya lagi.
"Yah itu artinya jodohnya belum datang. Lagian Mbak kok ngurusin kehidupan pribadi orang?" Tanya saya.
"Bukan gitu, Mi, dia itu cantik, banyak yang suka, yang ngelamar juga udah banyak, tapi dianya gak mau." Sahut si sukung lagi.
"Kenapa?" Eh, jiwa kepo emaknya tiba-tiba muncul deh.
"Soalnya dia itu pengennya suami yang sama persis kayak idolanya, kayak Taeyong, yang lagi kubikin bonekanya ini lho, Mi." Mendengar jawaban si sulung, saya masih belum paham.
"Maksudnya sama gimana? Mukanya mirip? Atau sifatnya?"
"Ya semuanya, dia menjukuki dirinya tuh istri Taeyong, jadi cinta mati deh sama idolanya itu sampe gak mandang sama orang lain."
"Jadinya gimana?"
"Jadinya dia gak punya keinginan nikah sama orang lain, Mi. Pengennya sama Taeyong aja."
"Serius itu?"
"Iiiih Umi mah, ya serius atuh," sahut si sulung gemas melihat saya masih terbengong-bengong.
Mengorbankan masa depan demi sebuah khayalan yang terlalu jauh dari jangkauan, biarpun mungkin saja terjadi, tapi rasanya itu terlalu konyol. Kenal dengan idolanya memang sudah khatam, kenal luar dalamlah, tapi apakah yang diidolakannya juga kenal sama yang disebut fans girl ini? Jangankan artis Korea, artis dalam negeri saja susah mau kenalan, apalagi kenal luar dalam dan berharap jadi pendamping hidup. Asli sampai sekarang saya tidak bisa memahami jalan pikiran customer anak saya itu yang saat saya seumuran dengannya sudah hampir melahirkan anak ketiga. Kalau masih seumuran anak saya sih saya masih bisa maklum, nah kalau sudah masuk angka 25? Cuma bisa geleng kepala.
Taeyong siap meluncur 
Ada juga yang berperih-perih nabung padahal pendapatan orang tuanya pas-pasan demi untuk beli albumnya.
"Mbak mah sayang Mi uang segitu cuma buat beli album, mana nabungnya lama, aneh ih."
"Mbak bakalan kayak gitu juga gak?" Tanyaku menyelidik.
"Ya gaklah, Mi. Mbak masih waras hehe." Masih banyak lagi bocoran cerita soal fans girl ini dari anak saya. Insya Allah nanti dilanjut lagi😊
#ODOPOKT18


Jumat, 20 Oktober 2017

Sabar Dengan Ujian

Ujian dari Allah yang selalu menimpa kita seperti miskin, sakit, kamatian, kekurangan, dan lain-lain kesusahan dan penderitaan adalah peluang yang Allah berikan untuk kita untuk bisa bermujahadah. Semakin tinggi taraf iman seseorang, semakin banyak pula ujian yang Allah datangkan.
Bila jiwa dihimpit oleh kesusahan-kesusahan, artinya nafsu yang tersiksa. Nafsu bakhil, sombong, penakut dan lain-lain mazmumah itu jadi sakit dan tersiksa setiap kali ditimpa ujian. Siapa saja baik orang Islam maupun bukan Islam pasti merasakan hal ini. Bagi orang-orang yang beriman dia sadar maksud Allah berbuat begitu. Setiap kali ditimpa ujian dia segera memberitahu hatinya bahwa kalau dia sabar dan ridlo dengan ujian itu pasti akan mendapat salah satu hadiah dari Allah yaitu penghaousan dosa atau kasih sayang Allah dan derajat di syurga. 
Bila kita yakin sungguh-sungguh dengan hadiah dari Allah itu, pasti kita akan sanggup memaksa nafsu untuk tenang dan merasa tidak apa-apa dengan penderitaan itu. Kalau kita miskin, maka ingatlah saat di akhirat nanti hisab akan dikurangi dan dipercepat masuk syurga.  Ajaklah hati untuk menerima pemberian Allah itu dengan redho, tanpa kesal dan buruk sangka pada Allah. Yakinlah bahwa Allah Maha Tahu kenapa kita dimiskinkan. Kita sensiri lemah untuj memahami hakikatnya apalagi untuk menghindarinya. Ibarat baju yang tidak tahu kenapa kadang-kadang dicuci, kadang-kadang disetrika, kadang-kadang dijahit, kadang-kadang dipakai, bahkan kadang-kadang dibuang. Maka begitulah kita yang jahil tentang rahasia diri dan hati sendiri. Maka kita sendiripun seharusnya redho dan sabar dengan ketentuan Allah kepada kita.
#ODOPOKT17

Selasa, 17 Oktober 2017

Kisah Seorang Abid

Ada satu kisah seorang Abid rajin ibadah kepada Allah sholat, wirid, zikir selama 20 tahun istiqomah tidak putus-putus ketika satu masa berjumpalah sang Abid ini dengan seseorang yg nampak asing dan membawa satu buku cantik kemas. Bertanyalah Abid :Wahai saudara siapakah engkau sedang apa dsini dan buku apa yg kamu bawa itu.Lalu dijawab:Aku malaikat utusan Allah pembawa buku catatan para kekasih Allah. Sang Abid mulai tersenyum dan berkata:Bolehkah sy melihat catatan para kekasih Allah dibuku itu pastilah aku termasuk didalamnya karena sholat, wirid, zikir kepada Allah tdak pernah putus selama 20 tahun.Lalu dengan teliti malaikat melihat nama nama yg tercantum dalam buku tersebut. Nama anda tidak tercatat dibuku para kekasih Allah. Penasaran sang Abid :Cobalah lihat lagi mungkin namaku terselip. Malaikat cek lagi tp namanya tetap tidak tercatat sebagai kekasih Allah. Sedihlah sang Abid lesu wajahnya menangis sejadi jadinya bertanyalah sang Abid pada malaikat :Kenapa aku tidak termasuk dlm catatan para kekasih Allah sedang sholatku, wirid zikir selama 20tahun tidak pernah putus. Malaikat menjawab:Sesungguhnya sholat wirid zikir yg selama ini kamu amalkan hanyalah untuk dirimu sendiri sedang kamu tidak mengambil berat urusan ditengah masyarakat seharusnya sholat wirid zikir menjadi pegangan supaya lebih kuat lg bergelanggang ditengah masyarakat memberi banyak manfaat utk umat. Karena khalifah itu mesti kuat hubungan dengan Allah Rasul dan banyak memberi manfaat pada manusia. Tersentak lah sang Abid menangis sejadi jadinya memohon ampun pada Allah atas kesilapan selama ini karena hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau berkhidmat pd orang lain. Dalam Islam ada habluminallah dan habluminannas mesti seiring sejalan supaya semua yg kita amalkan ada nilai di sisi Allah. Semoga bisa mengambil hikmah dari kisah tersebut. Sebaik baik manusia adalah yg banyak memberi manfaat utk manusia lain.
#ODOPOKT16

Minggu, 15 Oktober 2017

Dosa Tak Terlihat

Sebagian dari kita yang tidak mengenal dirinya secara mendalam, bila tidak minum-minuman keras, tidak berzina, tidak berjudi, tidak membunuh, tidak menipu atau tidak melakukan dosa-dosa lahiriah lainnya maka hatinya merasa tenang dan senang. Dia merasakan dirinya sudah lepas dari dosa-dosa besar. Akhirnya dia memandang jijik dan menghina orang yang berbuat dosa-dosa besar tadi.
Padahal dia sendiri tidak menyadari kalau sombong sudah menjadi pakaiannya, riyak hiasan dirinya, ingin dipuji, pemarah, hasad dengki dan glamour menjadi tujuan hidupnya. Semua yang ada pada dirinya adalah dosa-dosa besar yang tersembunyi. Dia tidak sadar karena mata hatinya sudah buta biarpun dia mendapat gelar ulama.
Dosa-dosa lahir yang sempat terbuat mudah disadari oleh orang lain dan juga oleh si pembuat dosa itu sendiri, sehingga orang lebih mudah untuk merasa hina, lebih mudah untuk insyaf dan mudah untuk bertaubat. Tapi orang yang berbuat dosa-dosa besar yang batin, sulit sekali menyadarinya, bahkan dia merasa bersih dari dosa. Saya ingat dulu di setiap pelajaran agama dari sejak saya SD sampai kuliah memang tidak pernah dibahas soal dosa-dosa yang lahir ini. Dosa sendiri yang batin tidak nampak, giliran dosa-dosa orang lain sangat terlihat. Biasanya orang yang berbuat dosa batin jarang yang bertaubat karena tidak terlihat. Dia berdosa tapi tidak sadar kalau sedang berbuat dosa, akibatnya dosa-dosanya dibawa sampai mati, belum sempat bertaubat, suul khatimah tanpa disadari. Kemurkaan Allah yang akan menimpa, maka nerakalah akhirnya. Naudzubillahi mindzalik. Ini ingatan untuk diri saya sendiri😓
#ODOPOKT14

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kisah Tentara Allah yang Taat pada Khalifah dan Wali



Menjelang tidur anak-anak seperti biasa nagih didongengin. Emaknya yang sedang kehabisan ide lalu bertanya apa saja yang menggelisahkan mereka. Ternyata mas Adib yang sudah kelas 2 SD bertanya tentang mengapa banyak bencana alam. Aha! Dari pertanyaan lugunya muncullah kisah khalifah dan seorang wali yang pernah emak tahu. mungkin belum menjawab lengkap pertanyaan mas Adib, tapi saya bersyukur malam itu stok cerita emak di kepala bisa nongol.
Diceritakan dalam kitab Kumpulan Keramat Para Wali bahwa di zaman Khalifah Sayidina Umar bin Khatab, suatu hari terjadi gempa bumi dahsyat di jazirah Arab. Kemudian Sayidina Umar bin Khatab memukul bumiyang sedang bergetar dengan tongkatnya sambil berkata, "wahai bumi, engkau hamba Allah dan aku khalifah Allah. Kenapa engkau bergoncang? Apakah aku pernah bertindak tidak adil terhadap engkau? Kalau tidak berhentilah bergoncang!"
Sungguh tindakannya di luar logika, namun ternyata setelah berkata seperti itu seketika bumi kembali tenang.
Bumi sebagai makhluk Allah ikut tunduk patuh kepada khalifah Allah sebagai wakil Allah di zaman itu. Dalam dunia wali, orang seperti ini disebut Sohibuzzaman yang kepadanya Allah mewariskan bumi. Begitulah hebatnya Allah, kalau Allah mengutus seseorang sebagai wakilnya di bumi, Allah bekalkan segala keperluannya. Bahkan tentara Allah seperti bumi, laut, air, angina, awan dan lain-lain Allah jadikan untuk menjadi makhluk yang taat kepada utusan Allah.
Cerita ini bukan saja berlaku pada para sahabat, namun juga para wali. Contohnya Tokku Paloh, wali terkenal di Trengganu Malaysia. Sewaktu Inggris datang hendak menjajah Trengganu, sepasukan tentara Inggris datang menemui Tokku Paloh. Mereka meminta ijin agar mereka bisa menempati Bukit Besar. Tokku Paloh lalu mengatakan kalau mereka boleh mengambil Bukit Besar dengan syarat bukit itu dibawa ke Negara mereka.
“Kalau mencampuri urusan pemerintahan kami, kami menolak. Kalau menginginkan tanah, silahkan ambil dan masukkan ke dalam kapal Tuan sebanyak apapun Tuan mau,” jawab Tokku Paloh. Mendapat jawaban seperti itu sudah pasti membuat tentara Inggris marah dan bangun dari duduknya, namun tak disangka kursi yang mereka duduki melekat di badan para tentara Inggris itu.
“Bukan hanya Bukit Besar itu saja yang kalian mau ambil, tapi kursi sayapun mau kalian ambil.” Kemudian atas ijin Allah kursi yang melekat dapat lepas kembali dan tentara Inggris pulang dengan rasa malu. Namun mereka tidak malu untuk datang lagi dan kembali berunding.di atas kapal perang mereka yang besar. Mengapa harus di atas kapal perang? Hal ini bertujuan agar bisa menakut-nakuti Tokku Paloh dan orang-orang Trengganu bahwa mereka bisa sewaktu-waktu menyerang kalau tidak menurut. Namun ternyata Tokku Paloh berkata kalau kapal perang mereka tidak akan mampu bertahan jika beliau naik. Tentara Inggris tertawa meledek. Lalu Tokku Paloh naik ke atas kapal, namun alangkah terkejutnya tentara Inggris, karena setiap kali Tokku Paloh memiringkan sorbannya ke kiri lantas kapal perang itu miring ke kiri, dan saat Tokku Paloh memiringkan sorbannya ke kanan, maka kapal itupun miring ke kanan. Keadaan itu sangat membuat tentara Inggris ketakutan hingga membatalkan perundingan itu. Hanya karena perintah rohani Tokku Paloh diterima, dipahami, ditaati oleh kapal dan laut, maka bergerak-geraklah kapal tanpa memerlukan perhitungan yang rumit atau alat lahiriah canggih seperti yang biasa digunakan oleh teknologi akal. 
Jika ada wali di muka bumi ini sekarang, tentara Allah akan menuruti segala perintah wali Allah itu. Pertanyaannya sudahkah ada lagi wali Allah di zaman ini? Sebelum pertanyaan emak terjawab, anak-anak sudah pulas. 
#ODOPOKT13

Jumat, 13 Oktober 2017

Perjumpaan dengan Sahabat

Sejak mengenal Facebook sekitar tahun 2009, orang pertama yang saya cari tentulah sahabat-sahabat terdekat. Namun sayang, setiap kali mencari setiap itu pula saya harus menelan kecewa.
Sampai sekitar akhir 2016 tiba-tiba dua sahabat yang saya cari itu meminta pertemanan di Facebook. Rasanya gimana? Tentu exited banget ya? Sampe gak habis-habisnya ngobrol bertukar kabar setelah 20 tahun hilang kontak.
Namun ada satu hal yang mengecewakan, yaitu salah satu sahabat yang akhirnya bertemu kembali itu ujung-ujungnya memprospek saya. Tahu dong rasanya diprospek? Rasanya jengah ya, apalagi sama sahabat yang sudah sekian lama tidak bertemu. Yang menyedihkan adalah setiap kali saya mencoba menghubungi dia untuk sekedar say hello atau bertukar kabar, lagi-lagi dia menanyakan saya udah ada niat belum untuk jadi member, dan karena sudah akrab dari dulu maka keluarlah kalimat-kalimat khas seperti : kerja itu bukan kerja keras tapi kerja cerdas, kalau kamu melewatkan kesempatan ini berarti kamu berada di antara orang-orang yang bodoh itu. Jangan menyesal kalau kamu lihat temanmu udah sukses sementara hidupmu masih terkatung-katung. Aaaargggghhh kenapa persahabatan yang indah itu harus dibumbui hal-hal bersifat materi seperti itu sih?
Namun pertemuan saya dengan sahabat saya yang satu lagi malah mengharu biru. Perubahan drastis dari gadis lugu yang tidak pernah bisa lepas dari tisue di setiap kesempatan, telah bertransformasi menjadi ibu rumah tangga solehah dan memiliki cahaya mata yang lumayan banyak meskipun masih lebih banyam saya 😅
Selain bertukar kabar saya dan sahabat saya ini banyaj bertukar pikiran dan ilmu-ilmu agama serta cara menyikapi berbagai hal. Dulu waktu masih sebangku dengan saya di sekolah anaknya susah sekali diajak diskusi (menurut saya), bahkan membicarakan pelajaranpun sedikit sekali. Jadi biarpun sebangku kami jarang ngobrol, anehnya pas udah emak-emak, jauh pula dia di Padangsidempuan dan saya di Bogor kami malah bisa ngobrol seru. Apalagi kalau ngobrolin teman-teman SMA atau tingkah anak-anak kami (anak saya 7 sedangkan anaknya 5) maka kami lupa deh mau nyupir, masak dan lain-lain (bagian ini harus jadi perhatian
 Ini dia sahabat saya yang hilang dan akhirnya bisa kembali bertemu :
Maafkan sobatmu yang sering nebeng buat pinjem komputer ya. Dulu saya belum punya komputer tapi sudah sering kirim tulisan dan dimuat di media massa. Pas tahu sahabat saya ini punya komputer, nebenglah saya ngetik di rumahnya, aturan aksi nongkrong saya di depan kompinya dilabeli banderol layaknya warnet ya, tapi dia mah gratisan, yang penting temannya hepi. Duh, kalau ingat masa-masa itu sedih, merasa bersalah banget. Syukur alhamdulillah Allah masih memanjangkan silaturahmi kami dengan bertemu kembali meskipun baru hanya di dunia medsos. Semoga Allah pertemukan kami juga di dunia nyata 😇
#ODOPOKT12


Kamis, 12 Oktober 2017

Calon Presiden




SEORANG lelaki sedang menjalani tes calon presiden tahun 2014. Tubuhnya yang masih gagah dan tegap meski usianya sudah memasuki kepala lima, ditambah air mukanya yang berwibawa dan bijaksana, menjadikannya layak memimpin negara dan bangsa Indonesia yang sudah karut-marut dan banyak masalah.
“Apa yang menjadikan Anda mencalonkan diri dalam Pilpres 2014 ini?” tanya salah seorang juri.
“Saya ingin memperbaiki Indonesia secara menyeluruh, nasib bangsanya, kekayaan alamnya, dan namanya di tingkat internasional. Saya ingin mengharumkan nama Indonesia dengan memperbaiki segala sistem yang sudah ada sekarang.”
“Anda yakin?”
“Yakin.”
“Apa modal Anda?”
“Keyakinan.”
“Hanya itu?”
“Ya.”
“Tidak mempunyai kepentingan-kepentingan pribadi?”
“Tidak.”
“Mantap sekali Anda menjawab. Apakah Anda tidak tahu banyak mantan presiden yang mencalonkan diri lagi?”
“Saya tahu.”
“Tahukah Anda bahwa saingan-saingan Anda nanti adalah orang-orang yang sudah berpengalaman dan kuat-kuat?”
“Saya punya kekuatan uang dan koneksi.”
“Baiklah, melihat kemantapan Anda, Anda seharusnya lulus, tapi sebelum kami meluluskan Anda ikut dalam Pilpres 2014 ini, kami akan ajak Anda menaiki karpet waktu.”
“Karpet waktu?”
“Ya, tidak usah banyak bertanya, ikuti saja kami.”
“Baik.”
Pada akhirnya seorang juri yang banyak bertanya tadi membawa lelaki itu ke dalam suatu tempat. Di tempat yang tersembunyi itu terdapat sebuah karpet merah mirip sebuah permadani. Lampu yang hanya lima watt menjadikan lelaki yang bermata rabun jauh itu tidak dapat jelas melihat detail karpet itu.
“Mari kita duduk di karpet itu!” ajak sang juri. Lelaki itu menurut.
“Anda tidak usah banyak bertanya, ikut saja.” Sekali lagi juri itu mengingatkan.
Meski sebenarnya merasa aneh dan merasa takut, lelaki itu menurut saja.
Dengan sedikit ragu, lelaki itu duduk mengikuti juri yang telah lebih dulu duduk bersila.
“Pejamkan mata!”
“Baik.” Lelaki itu pun memejamkan mata. Semakin ketakutanlah hatinya, namun tak bisa berbuat apa-apa, apalagi pintu ruangan dikunci. Hanya pasrah yang bisa dilakukannya.
Beberapa saat kemudian terdengar suara bising sebuah mesin, padahal di ruangan itu hanya ada karpet. Lelaki itu terkejut, namun dia tak berani membuka mata.
Hanya sekitar satu menit suara mesin itu membisingkan ruangan, yang kini dirasakan lelaki itu dalam mata terpejamnya adalah sebuah ruangan terbuka dan semilir angin yang terasa panas.
“Bukalah mata Anda.” Perlahan, lelaki itu membuka mata. Betapa terkejutnya dia karena yang didapatinya adalah sebuah gurun pasir. Dan, tempatnya duduk adalah sebuah batu besar, bukan lagi karpet yang tadi.
“Kita berada pada masa pemerintahan Sayidina Umar bin Abdul Aziz.” Ucap sang juri menjawab keheranan lelaki itu.
“Siapa dia?”
“Beliau pemimpin negara yang adil. Setelah pemerintahan Khulafaur Rasyidin, tidak ada lagi pemimpin yang seadil beliau. Beliau sangat berhati-hati mengurus tanggung jawab yang diamanahkan padanya. Beliau amat takut kalau tidak dapat bersikap adil. Karena itulah beliau lebih mengutamakan keperluan rakyat daripada diri dan keluarga.”
“Memangnya masih ada pemimpin seperti itu setelah wafatnya Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin?”
“Sekarang kita lihat buktinya. Mari kita ke rumah beliau.” Sang juri mengajak lelaki itu berjalan.
“Salah satu kehebatan Khalifah Umar bin Abdul Azis yang luar biasa adalah beliau malah hidup miskin setelah diangkat menjadi khalifah. Anda tahu khalifah itu apa?”
“Semacam presiden di negara kita.”
Yap, Anda benar. Khalifah Umar menempati rumah yang hanya cukup untuk dirinya. Karena setelah diangkat menjadi khalifah, seluruh kekayaannya diberikannya pada baitul mal.” Papar sang juri membuat hati sang calon presiden kecut.
“Benar-benar ini rumahnya?” tanya lelaki itu tak percaya karena semula dia mengira akan melewati rumah gubuk itu dan menuju rumah yang lebih baik dari yang dilihatnya.
“Ya, ini benar-benar rumah beliau.” Sang juri memperlihatkan sebuah rumah yang teramat sangat kecil dan sederhana.
Lelaki itu mengintip dari balik jendela yang atapnya hanya terbuat dari daun kurma itu. Ternyata, di dalam rumah itu hanya terdapat sebuah cangkir, sebuah piring, dan sebuah alas lilin, tidak ada alas untuk tidur.
“Mari kita naik lagi ke karpet.” Ajak sang juri, lelaki itu menurut saja.
Tiba-tiba dua lelaki itu sudah dibawa ke tempat yang gelap.
“Di mana ini?” tanya sang calon presiden.
“Masih di tempat yang sama, tapi kita berada di malam hari.” Sahut sang juri.
Beberapa saat kemudian, terdengar seseorang mendatangi rumah Khalifah Umar.
“Siapa?” tanya Khalifah Umar dari dalam rumah.
“Saya, Ayah,” jawab orang yang datang yang ternyata putranya.
“Ada apa?”
“Ibu menyuruh saya berjumpa ayah.”
“Untuk apa?”
“Membicarakan masalah keluarga.”
“Kalau begitu tunggu sebentar.” Sang calon presiden dan sang juri mengintip dari lubang dinding. Dilihatnya khalifah Umar meniup lilin satu-satunya yang ada di ruangan itu sehingga rumahnya menjadi gelap gulita.
Kemudian, Khalifah Umar membukakan pintu untuk anaknya.
“Mengapa gelap begini, Ayah?”
“Maafkan Ayah, anakku, rumah ini bukan milik kita dan lampu ini bukan milik kita. Oleh karena Ayah adalah pemimpin rakyat, Ayah wajib menjaga uang rakyat untuk kepentingan rakyat. Ayah tidak mau gunakan untuk kepentingan keluarga sehingga merugikan negara. Ayah takut di hadapan Allah nanti akan ditanya mengapa Ayah gunakan minyak rakyat untuk kepentingan keluarga.” Papar Khalifah Umar panjang lebar.
“Jadi, kalau aku ke sini untuk membicarakan masalah negara, ayah akan tetap menyalakan lampu, tapi kalau untuk membicarakan masalah keluarga ayah mematikan lampu?”
“Ya, kau benar anakku, masalah keluarga kan masalah pribadi, ayah tidak mau menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi,” ujar Khalifah Umar lagi.
Sang calon presiden dahinya berkerut, rasa kesal menyergapnya.
“Anda dengar itu? Anda paham?” tanya sang juri.
“Ya, tapi berlebihan sekali kalau hanya uang untuk lampu saja beliau tidak mau menggunakannya, padahal rakyatnya tidak akan menuntut kalau hanya sedikit.”
“Beliau tidak berlebihan, tapi terlalu berhati-hati.”
“Ah, mana ada manusia seperti itu? Ini pasti hanya dongeng.”
“Tidak, ini nyata, kalau tidak percaya akan aku tunjukkan kepemimpinan pemimpin-pemimpin lain yang patut dicontoh.”
“Tidak perlu, aneh, aku tidak percaya!” Sengit sang calon presiden lagi. “Ngomong-ngomong, mengapa tiba-tiba aku memahami bahasa Arab?”
“Karena dengan menaiki karpet ini, kita akan memahami semua bahasa di dunia.” Bisik sang juri kepada lelaki yang akhirnya termenung-menung.
“Kita naik lagi ke karpet,” ajak sang juri lagi.
Tak lama kemudian, mereka tiba kembali di kegelapan malam, masih di tempat yang sama.
“Dengar, beliau sedang menangis di atas sajadah,” bisik sang juri.
“Mengapa Ayah menangis?” tanya istri Khalifah Umar.
“Bagaimana aku tidak menangis? Aku telah diangkat menjadi raja kaum Muslimin dan orang asing. Yang sedang aku pikirkan sekarang adalah nasib orang-orang miskin yang kelaparan. Orang yang sakit, yang tak berpakaian dan menderita, yang tertindas, orang asing yang dipenjara. Mereka yang banyak anak, tapi miskin. Serta, mereka yang berada di tempat-tempat yang jauh. Aku merasakan, pada hari kiamat tentu aku akan ditanya oleh Allah keadaan mereka yang di bawah penguasaanku. Aku takut tidak ada pembelaan yang dapat membantuku. Karena itu aku menangis.”
“Anda dengar itu? Ayo, kita kembali naik ke karpet!”
Beberapa saat kemudian, dua lelaki itu sudah berada di tempat yang sama dalam keadaan terang.
“Ini sudah pagi,” ujar sang juri.
“Lihat ada yang datang,” seru sang calon presiden menunjuk pada seorang nenek. Nenek itu mendatangi rumah Khalifah Umar dengan tergesa-gesa.
“Demi Allah aku bermimpi aneh sekali.” Ujar nenek itu.
“Ceritakanlah mimpimu.” Kata Khalifah Umar.
“Aku bermimpi melihat neraka yang berkobar apinya. Dan, ada titian siratul mustaqim di atasnya. Kemudian, Abdul Malik bin Marwan dibawa di atas titian itu lalu jatuh ke neraka jahanam. Kemudian, dibawa al-Walid bin Abdul Malik moyang Anda, setelah hampir ke ujung kemudian dia jatuh. Kemudian, dibawa Sulaiman bin Abdul Malik, nasibnya pun begitu juga.”
“Teruskan… teruskan…,” ujar Khalifah Umar gundah, suaranya bergetar, kecemasannya menjadikan tubuhnya menggigil dan ketakutannya bisa dilihat oleh sang juri dan sang calon presiden..
“Setelah itu giliran Anda… saat giliran Anda… Anda, Anda masuk….”
Bug! Belum selesai si nenek bercerita, tubuh Khalifah Umar terjatuh.
“Ya Tuhan… ya Allah, aduh, bagaimana ini? Khalifah, khalifah, mengapa Anda? Ada apa dengan Anda?” Si nenek mengguncang-guncang tubuh Khalifah Umar dengan penuh cemas, sejurus kemudian berdatanganlah orang-orang mendekati tempat itu.
“Cepat kita kembali ke karpet!” Secepat kilat pula mereka sudah tiba di ruangan kosong lagi.
“Apa yang terjadi pada Khalifah Umar?” tanya lelaki itu penuh rasa ingin tahu.
“Beliau wafat karena takut dirinya juga menerima nasib yang sama dengan pendahulu-pendahulunya. Usianya masih 36 tahun dan beliau hanya memerintah selama dua tahun. Seluruh hartanya sebelum menjabat menjadi khalifah diserahkan semua ke baitul mal dan beliau hidup seperti rakyat biasa. Ketika beliau wafat, semua berdukacita, termasuk mereka yang bukan Islam. Terasa betapa makmurnya mereka hidup di bawah pemerintahan beliau. Kambing dan serigala yang saat pemerintahan beliau berbaikan, setelah beliau wafat bermusuhan lagi.”
“Mengapa bisa begitu?”
“Karena beliau orang bertakwa, tak ada seujung rambut pun beliau punya kepentingan dunia, sekali pun sanjungan atau kehormatan, apalagi harta.”
“Maksud Anda, dia hanya punya kepentingan dengan akhirat?”
“Ya, dia merasa jadi pemimpin adalah amanat Tuhan yang harus dijalankannya dengan baik dan benar. Dengan penghormatan saja beliau merasa tersiksa, apalagi dengan harta.”
Sang calon presiden terdiam dan termenung.
“Apakah Anda siap menjadi presiden seperti beliau?” tanya sang juri.
Sang calon presiden tidak menjawab, dia malah tergugu menangis.
Lho, mengapa Anda malah menangis?”
“Ada apa saya ini? Tidak pernah terpikir sedikit pun dalam diri saya menjadi orang seperti beliau, bahkan tidak sedikit pun saya memiliki sifat seperti beliau, berani-beraninya saya mencalonkan diri.” Masih tergugu lelaki itu menjawab.
“Lantas?”
“Periode ini saya mengundurkan diri, saya ingin memperbaiki diri dulu dan juga memperbaiki niat saya mencalonkan diri jadi presiden. Atau, mungkin juga saya tidak berani-berani lagi mencalonkan diri menjadi presiden. Seumur hidup.”
“Memang seharusnya begitu,” batin sang juri dalam hati sambil tersenyum. “Kita sedang sangat membutuhkan pemimpin yang dipilih oleh Tuhan, bukan manusia.” (*)

Rabu, 11 Oktober 2017

Ngelapak di Medsos yang Tak Selalu Indah

Dari coba-coba, iseng, saya menjadikan media sosial yaitu facebook untuk gelar dagangan alias ngelapak. Biarpun sudah punya akun twitter, instagram dan juga ngeblog tapi saya belum bisa move on jualan di facebook biarpun gak selalu pecah telor.
Saya pernah diteror telpon gara-gara pesanan sudah seminggu belum sampe ke konsumen. Waktu dicek, ternyata barangnya nyangkut di Surabaya, untuk sampai ke Probolinggo harus tambah ongkos lagi sebanyak 150 ribu. Kaget dong saya, kesepakatan awal gak begitu, katanya ada kesalahan pas menimbang. Pas dikonfirmasi ke konsumen, dia gak kalah kaget, sampai akhirnya meluncur dengan manisnya tuduhan dan omelan buat saya, segala bukti yang saya punya soal barangnya yang betul-betul saya kirim tidak digubrisnya, pokoknya dia gak peduli apapun, yang penting barangnya nyampe, kalau gak nyampe juga bakal dilaporin polisi.
Di hari yang sama, telpon yang lain masuk pula, barang konsumen belum tiba juga di Rangkasbitung, setelah dicek ternyata barangnya nyangkut di Cilegon, untuk sampai ke konsumen, ekspedisinya lagi-lagi minta tambah ongkir, yang ini 100ribu. Saat saya konfirmasi ke konsumen, dia minta refund aja, dan minta secepatnya. Saya lalu kontak temen saya yang ada di Cilegon, saya minta tolong dia untuk sementara menampung barang itu daripada balik lagi ke Bogor, namun rupanya teman saya itu tidak bersedia dengan berbagai alasan.
Terus terang saya gak berani cerita sama suami, karena sejak awal beliau kurang setuju dengan aktifitas saya ini. Alhasil omelan dan tuduhan itu langsung mengingatkan saya sama mas bojo, saya langsung minta maaf meskipun beliau bingung saya minta maaf untuk apa. Tapi jawabannya ya dimaafkan, apalagi kondisinya saat itu sedang dinas.
Saat saya sharing sama emak-emak pebisnis di grup, hampir 100% bilang kalau saya yang harus nombokin ongkos kirim, buat nama baik kita sendiri sebagai seller. Tambah bingunglah saya, bukan apa-apa, tabungan saya gak punya sama sekali, laba yang tipis aja udah kepake buat kulakan. Mau bilang mas bojo rasanya juga gak mungkin, lha saya jualan niatnya bantuin kok hasilnya malah tambah membebani, kan gak lucu. Mau ngutang, ngutang ke siapa? Kata-kata pedas mbak konsumennya aja masih terasa menampar-nampar, ini mau nambah diomelin orang gara-gara mau ngutang yang pastinya saya gak bisa mastiin kapan bayarnya.
Akhirnya malam itu saya gak bisa tidur, cuma bisa sujud minta ampun di atas sajadah, sudah pasti dosa saya banyak meskipun tidak sengaja, dan saya pasrahkan bulat-bulat segala masalah saya hanya sama Allah.
Keesokan paginya saya masih bisa kasih senyum buat anak-anak, entah galaunya lari kemana, yang jelas perasaan saya udah lempeng kalo kata orang Sunda, udah gak ada beban, ringan kayak gak ada apa-apa.
Sekitar jam 9an pagi hape bunyi, pas dilihat ternyata mbak konsumen, seketika galau itu datang lagi, parno rasanya mau angkat telpon, tapi mau gak mauharus diangkat.
"Assalamualaikum, Mbak," sapanya. Saya curiga, kok suaranya jadi lunak gitu ya? Manis gitu kedengarannya. Dengan terbata saya jawab salamnya.
"Alhamdulillah barangnya udah sampe, Mbak," ujarnya riang. Asli itu lutut saya serasa mau rontok, saya yang dalam posisi berdiri langsung berlutut saking gak kuatnya.
Sebelum saya tanya kok bisa, dia sudah memberi salam perpisahan setelah minta maaf dan berterima kasih.
Beberapa saat kemudian saya menangis, ya Allah, rasanya Allah itu dekaaaat banget, saya merasa semakin hina karena saya hamba, siapalah saya tanpa pertolongan Allah? Setelah itu mendadak saya teringat sama Opie temen kuliah dulu, ya Allah kenapa baru ingat dia sekarang?
Dengan harap-harap cemas saya inbox Opie, tak disangka dia fast respon, bahkan pagi itu juga langsung transfer, ajaibnya bu guru ini sendiri yang ngambil barangnya di ekspedisi! Allahu akbar! Kalau Opi ada di dekat saya pasti udah saya peluk erat, dia bahkan gak tahu seberat apa tekanan yang dia bebaskan dari dada saya.
Terima kasih ya Allah, Engkau memang sebaik-baik penolong.

Selasa, 10 Oktober 2017

Apa Rasanya Punya Banyak Anak?

Masih ada saja orang yang merasa heran kalau saya bilang jumlah anak saya 7. Angka itu merupakan angka fantastis ternyata, padahal saya banyak menemukan seorang ibu yang memiliki jumlah anak lebih banyak. Lalu pertanyaan mengalir pada apa rasanya? Bagaimana cara mendidik anak segitu banyak? Emang gak ribet? Anaknya anyeng-anteng sih ya?
Anak-anak saya anak normal seperti anak-anak lain pada umumnya kok. Kadang mereka rewel, kadang bandel, kadang susah diatur tapi seringkali juga akhlak mulia, mudah dinasehati, ikut ibadah tanpa disuruh. Yah, namanya juga anak-anak, datang pergi sikap ngeselin dan ngangeninnya. Kalo soal beriaik jangan ditanya deh, rumah saya itu yang paling berisik di cluster ini.
Kalau ditanya soal sifat anak-anak dari si sulung sampai si bungsu, sudah pasti beraneka macam. Seringkali kalau mereka bersikap kurang baik, saya akan menelaah sikap saya saat sejak hamil sampai didikan saya pada mereka. Biasanya kalau sedang bermuhasabah seperti itu Tuhan menunjukkan petunjuk, ternyata ada saja kesalahan saya saat hamil atau mendidik mereka. Tindakan selanjutnya adalah memperbaiki kesalahan saya dalam bersikap pada anak-anak lalu menyebut namanya di setiap pertemuan malam kita dengan Allah. Betul-betul kita sebut namanya dengan bin atau binti.
Nah, yang saat ini sedang sangat meresahkan saya adalah sikap anak kelima saya yang mudah sekali menyerah. Dalam hal apapun. Dia tidak seperti anak keempat saya yang baru sedikit diberi motivasi akan terus berjuang sampai bisa. Contoh saat Adib (anak keempat)
bengong sementara ibu dan kakak-kakaknya asik dengan asik dengan buku masing-masing, maka dia terpacu ingin segera bisa membaca, padahal saat itu dia masih TK dan saya belum terlalu serius mengajarinya membaca. Dan hanya dalam waktu beberapa jam saja karena ada kemauan keras dan fokus maka Adib langsung saja bisa membaca.
Begitu pula saat dia melihat temannya yang di depan rumah bisa naik sepeda roda 2, dia langsung meminta abinya melepas roda kecil dari sepedanya. Dalam waktu sehari saja sia langsung bisa naik sepeda roda dua.
Sedangkan adiknya (Yasar) padahal beda umurnya hanya setahun setengah dengan kakaknya, tapi mengajari membaca dan latihan sepeda butuh kerja keras. Saya tidak pernah memaksa, namun kalau melihat perkembangan adiknya yaitu anak nomer 6 yang melebihi dirinya, dia malah rendah diri lantas ngambek dan susah diajak ngobrok baik-baik, bukannya menjadi motivasi bagi dirinya. Sepertinya sepele ya, tapi kalau bagi saya bikin saya betul-betul muhasabah dan saya minta ampun pada Allah jika saya banyaj salah dan silao waktu hamil Yasar. Tak henti juga saya sebut namanya dalam doa-doa saya secara khusus selain keenam anak saya yang lain.
#ODOPOKT9

Senin, 09 Oktober 2017

Rahasia Besar Menjelang Pernikahan

Mendengarkan kegelisahan seseorang kadang membuat sedih kalau kita tidak bisa memberi solusi yang pas. Biasanya saya hanya jadi pendengar setia teman-teman yang sedang galau, namun seringkali mereka tidak butuh hanya didengarkan tapi juga diberi pencerahan.
Seperti baru-baru ini saya menerima kegalauan seorang muslimah yang baru saja menerima pinangan seorang laki-laki yang sudah mapan secara finansial, baru hijrah dan memperdalam agama serta dari segi fisik bisa dibilang good lookinglah.
Lalu apa yang membuat galau? Ada satu rahasia besar yang sebenarnya ditutup rapat oleh calon suaminya namun akhirnya dibuka juga karena sang calon suami tidak tega pada calon istrinya. Rahasia itu merupakan rahasia besar yang ibu kandungnya saja tidak tahu. Rahasia laki-laki yang nampak soleh itu adalah dia menderita HIV. Mengapa bisa seperti itu? Apakah dia korban kesalahan atau apa? Tidak, laki-laki itu sebelumnya memang pernah terjerumus pada dunia gelap sebelum akhirnya bertobat dan hijrah. Yang lebih mengejutkan adalah calon suaminya tertular virus itu dari sesama jenis. Jadi sampai lamaran itu dilaksanakan dan sampai perbincangan rahasia besar itu disampaikan sang calon suami belum memiliki ketertarikan pada perempuan meskipun dia mengaku ingin sembuh.
Siapa orangnya yang tidak gelisah menerima kenyataan seperti itu? Sang calon istri gelisah karena lamaran sudah terlanjur diterima, persiapan pernikahan sudah berjalan dan calon suaminya berkali-kali minta agar dikuatkan dalam jalan Tuhan dengan pernikahan itu. Satu yang pasti adalab sang calon istri tidak mau mengecewakan orang-orang yang dia kasihi, khususnya ibu dan ayahnya. Apalagi masih terbayang kebahagiaan ibunya saat menerima pinangan itu. Sang calon suami memohon dengan sangat supaya rahasia itu tidak bocor pada keluarga sang calon istri juga pada keluarganya sendiri.
Dalam hal ini tentu saya tidak bisa hanya sekedar jadi pendengar atau pembaca setia. Namun saya sedih sendiri karena saya hanya bisa kasih saran : coba istikarah, minta jalan terbaik dari Allah. Sebuah nasehat yang saya sendiri tidak tega menuliskannya.
#ODOPOKT8

Minggu, 08 Oktober 2017

Remaja adalah Aset

Ngobrol sama anak-anak itu temanya bisa macam-macam. Sore ini ngobrolin temen si sulung yang merasa tidak berguna. Si sulung nanya dan penasaran kenapa banyak teman-temannya yang sudah beranjak remaja berpikiran seperti itu.
Kalau hanya ngobrolin hal ini sama uminya saja, alamat bakal jadi cerita bersambubg karena ngomongin remaja itu gak akan ada habisnya.
Remaja dianggap aset bagi sebuah bangsa dan negara. Makanya untuk menjadi bangsa yang kuat, kita harus bijaksana menjaga para remaja. Aset remaja adalah :
1. Akal (ilmunya)
2. Rohnya
3. Fisiknya (tenaganya)
4. Nafsunya
Remaja adalah aset paling besar. Lebih besar daripada emas, perak dan aset mentah lainnya. Kita bisa lihat banyak negara yang kaya dengan sumber daya alam dalam negaranya tapi sia-sia karena tidak ada tenaga manusia dan ilmu yang berguna. Jadilah negara yang kaya raya itu jadi negara miskin. Ada pula negara yang tidak memiliki sumber daya alam tapi punya kekuatan akal, ilmu dan badan yang sehat, maka habislah kekayaan negara lain dibongkar sampai-sampai negara yang kaya itu malah bersandar pada negara yang udah 'mencuri' kekayaannya. Kalau tidam, tidak dapat dimanfaatkan bahan mentahnya.
Jadi sebuah negara yang kaya sumber daya alamnya tidak berguna apa-apa kalau negaranya tidak berfungsi. Kekayaan negara Jepang tidak banyak tapi jadi negara kaya. Sedihnya kebanyakan negara Islam yang kaya dengan kekayaan sumber daya alamnya menjadi negara miskin karena remajanya tidak dijaga hingga tidak bisa digunakan.
Kesimpulannya tenaga remaja itu sebenarnya aset paling besar bagi sebuah negara. Sebab itu negara yang baik atau bangsa yang baik akan menjaga asetnya sejak masih anak-anak.